Friday, May 17, 2013

JENIS DAN MAKNA KATA ULANG (DWIPURWA, DWILINGGA, BERIMBUHAN DAN SEMU)

JENIS DAN MAKNA KATA ULANG (DWIPURWA, DWILINGGA, BERIMBUHAN DAN SEMU) - Kata Ulang atau Reduplikasi adalah Kata jadian yang terbentuk dengan  pengulangan kata. berikut ini akan dijelaskan tentang jenis-jenis kata ulang dan juga makna-makna kata ulang. 

Ilustrasi kata ulang: daunnya hijau-hijau.

A. JENIS-JENIS KATA ULANG

Baiklah, sekarang kita masuk pada Jenis-Jenis kata Ulang menurut Gorys Keraf (dengan penambahan dan variasi contoh):
  1. Dwilingga (kata ulang utuh atau penuh): Reduplikasi atas seluruh bentuk dasar (bisa kata dasar maupun kata berimbuhan). Contoh: satu-satu, merah-merah, buku-buku, samar-samar dsb.
  2. Dwilingga salin suara (berubah bunyi): Reduplikasi atas seluruh bentuk dasar yang salah satunya mengalami perubahan suara pada suatu fonem atau lebih. Contoh: lauk-pauk, serta-merta, gerak-gerik, sayur-mayur, mondar-mandir dsb
  3. Kata ulang berimbuhan: Reduplikasi dengan mendapat imbuhan, baik pada lingga pertama maupun pada lingga kedua. Contoh: berteriak-teriak, bermain-main, tarik-menarik, sebanyak-banyaknya, kemerah-merahan, hormat-menghormati, nyanyi-nyanyian dsb
  4. Dwipurwa (kata ulang sebagian): Reduplikasi atas suku kata awal. Vokal dari suku kata awal mengalami pelemahan dan bergeser ke posisi tengah menjadi e pepet. Contoh: tetangga, leluhur, lelaki, sesama dsb.
  5. Kata ulang semu: Kata yang sebenarnya merupakan kata dasar dan bukan hasil pengulangan atau reduplikasi. Contoh: cumi-cumi, paru-paru, laba-laba, ubur-ubur, biri-biri, undur-undur, kura-kura, kupu-kupu, kunang-kunang dsb
B. MAKNA-MAKNA KATA ULANG
 
Dari berbagai jenis kata ulang di atas, setiap kata ulang yang terbentuk memiliki maknanya sendiri, semisal kata ulang merah-merah yang bermakna sangat, tidak sama maknanya dengan kata ulang kemerah-merahan yang bermakna agak.

Berikut adalah beberapa Makna kata ulang yang disadur dari organisasi.org serta beberapa pranala luar.

1. Kata ulang yang menyatakan banyak tidak menentu.
Contohnya: pepohonan, pulau-pulau, meja-meja, rupa-rupa, dsb.

2. Kata ulang yang menyatakan sangat.
Contohnya: besar-besar, malas-malas

3. Kata ulang yang menyatakan paling.
Contohnya: setinggi-tingginya, sebanyak-banyaknya, dsb.

4. Kata ulang yang menyatakan mirip / menyerupai / tiruan.
Contohnya: kapal-kapalan, motor-motoran, mobil-mobilan, rumah-rumahan, hantu-hantuan, dsb.

5. Kata ulang yang menyatakan saling atau berbalasan
Contohnya: cubit-cubitan, kunjung-mengunjungi, sapa-sapaan, tegur-teguran, bersalam-salaman, dsb.

6. Kata ulang yang menyatakan bertambah atau makin
Contohnya: meluap-luap, lama-kelamaan, dsb.

7. Kata ulang yang menyatakan waktu atau masa
Contohnya: malam-malam, pagi-pagi, datang-datang, tiba-tiba, dsb.

8. Kata ulang yang menyatakan berusaha atau penyebab
Contohnya: mengkait-kaitkan, melemah-lemahkan, menguat-nguatkan, dsb.

9. Kata ulang yang menyatakan terus-menerus
Contohnya: bertanya-tanya, mengejar-ngejar, terus-menerus, dsb.

10. Kata ulang yang menyatakan agak (melemahkan arti)
Contohnya: Sakit-sakitan, malu-malu, pening-pening, dsb.

11. Kata ulang yang menyatakan beberapa.
Contohnya: berhari-hari, bertahun-tahun, dsb.

12. Kata ulang yang menyatakan sifat atau agak
COntohnya: kebarat-baratan, kewanita-wanitaan, kekanak-kanakan, keibu-ibuan, dsb.

13. Kata ulang yang menyatakan himpunan pada kata bilangan
Contohnya: lima-lima, sepuluh-sepuluh, seratus-seratus, dsb.

14. Kata ulang yang menyatakan bersengang-senang atau santai
Contohnya: tidur-tiduran, jalan-jalan, seru-seruan, dsb.

Demikianlah artikel ini dibuat untuk menambah khazanah pengetahuan kita, semoga bermanfaat.

Keraf, Gorys. 1991. "Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia". Jakarta: Grasindo.
http://organisasi.org/makna-kata-ulang-dalam-bahasa-indonesia-arti-pengertian-perulangan-kata

0 comments:

Post a Comment