Sunday, July 1, 2012

T. Raka Joni: Kompetensi Kepribadian-Sosial DAN Kompetensi Profesional

T. Raka Joni: Kompetensi Kepribadian-Sosial DAN Kompetensi Profesional >>> T. Raka Joni dalam buku Proses Belajar Megajar mengelompokkan hanya ada dua kompetensi, yaitu kompetensi kepribadian, sosial, dan kompetensi profesional.

A. Kompetensi Kepribadian dan Sosial

Kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial dari seorang guru merupakan modal dasar bagi guru yang bersangkutan dalam menjalankan tugas keguruannya secara profesional. Kegiatan pendidikan pada dasarnya merupakan pengkhususan komunikasi personal antara guru dan siswa. Kompetensi kepribadian dan sosial keguruan menunjuk perlunya struktur kepribadian dewasa yang mantap, susila, dinamik (reflektif serta berupaya untuk maju), dan bertanggung jawab. Nilai-nilai hidup yang dihayati serta mengarahkan seluruh tindak keguruannya hendaknya bersumber pada pengalaman iman yang hidup.

Kompetensi personal-sosial memiliki beberapa konsekuensi atau karakter guru sebagai berikut :
  1. Guru menghayati serta mengamalkan nilai hidup. Mengamalkan nilai hidup berarti guru yang bersangkutan dalam situasi tahu, mau dan melakukan perbuatan nyata yang baik, yang mendamaikan diri beserta lingkungan sosialnya. Proses pendidikan selalu bersifat implisit maupun eksplisit. Tindakan keguruan hendaknya bertolak dari keyakinan nilai tertentu, yang sekaligus perlu dikaji atau direfleksikan terus-menerus. Nilai luhur kemanusiaan yang mendasar selalu bersifat universal.
  2. Guru hendaknya bertindak jujur dan bertanggung jawab. Kejujuran dan kesediaan bertanggung jawab atas segala tindak keguruannya tersebut merupakan pengakuan akan berbagai keterbatasannya yang perlu dibenahi dan atau dikembangkan terus-menerus. Kadar kesungguhan hati atau semangat berusaha dalam pengembangan karir, sportivitas, kerendah-hatian, dan rela meminta maaf kepada siswa atau siapa pun yang dirugikannya atau dikecewakannya, merupakan watak yang terpuji dari para guru.
  3. Guru mampu berperan sebagai pemimpin, baik di dalam lingkup sekolah maupun di luar sekolah. Kepimpinan guru di sekolah tampak dalam kemampuannya menciptakan situasi belajar siswa yang kondusif dan kemampuannya dalam mengorganisasi seluruh unsure serta kegiatan belajar siswa untuk mencapai tujuan belajarnya. Situasi kelas atau sekolah yang kondusif tersebut ditandai oleh semangat kerja yang tinggi, terarah, kooperatif, tenggang rasa, etis, dan efektif-efisien.
  4. Guru bersikap bersahabat dan terampil berkomunikasi dengan siapapun demi tujuan yang baik. Modal dasar berkomunikasi dengan sesama adalah kesediaanya menghargai partner, bersikap terbuka, menguasai teknik berkomunikasi, dan mampu ikut memahami gejolak serta warna perasaan dari partner komunikasinya. Guru hendaknya tidak bersifat sentimental. Persahabatan yang tulus dan etis antar individu merupakan tanda keberhasilan dalam berkomunikasi dan mengembangkan diri bagi siapa pun.
  5. Dalam persahabatan dengan siapa pun, guru tidak kehilangan prinsip serta nilai hidup yang diyakininya. Dalam hal ini guru diharap mampu menghargai pribadi orang lain yang berbeda dengan dirinya. Pergaulan dan persahabatan hendaknya menjadi arena transaksi nilai hidup seseorang serta pengembangannya. Seluruh pergaulannya yang dialami oleh guru hendaknya dilandasi dengan kesopanan dan kesusilaan.
  6. Guru bersedia ikut berperan serta dalam  berbagai kegiatan sosial baik dalam lingkup kesejawatannya maupun dalam kehidupan masyarakat pada umumnya. Guru siap untuk menyumbangkan kemampuannya, lebih-lebih yang berhubungan dengan kecakapan keguruannya bila dibutuhkan oleh sesamanya tanpa memperhitungkan keuntungan diri sendiri secara berlebihan.
  7. Guru adalah pribadi yang bermental sehat dan stabil. Hal ini menunjuk tingkat perkembangan serta pengintergrasian daya-daya fisik, psikis dan spiritual yang sehat, berpola, dinamis, dan adaptif terhadap lingkungan sosial budayanya. Cirri lain dari seorang yang bermental sehat adalah realistis, mengenali keadaan diri serta potensi-potensinya, mengenali keleibihan serta kekurangannya dan ulet dalam mendayagunakan seluruh kemampuannya untuk mencapai perkembangan diri serta karirnya.
  8. Guru tampil secara pantas dan rapi. Hal ini berhubungan dengan tata cara bertidak, bertutur, berpkaian dan kebiasaan-kebiasaan lainnya. Dalam hal ini masalah kesopanan, kehalus cita rasa, keharmonisan dan penyesuaian diri dengan situasi nyata dilingkungannya adalah masalah penting dalam sosialisasi guru yang bersangkutan.
  9. Guru mampu berbuat kreatif dengan penuh perhitungan. Tugas keguruan tidak dapat dipolakan secara mekanis, eksak dan dengan resep tunggal. Variasi tindak keguruan yang meliputi pendekatan pengajaran, strategi, metode, teknik, dan sejenisnya tidak terbatas adanya. Dalam hal ini guru dituntut mampu bertindak kreatif dalam melaksanakan tugas keguruannya, dalam batas tertentu tindak kependidikan tersebut bersifat seni karena bersifat khas, autentik, penuh alternative dan bersifat mendasar bagi kehidupan seseorang.
  10. Dalam keseluruhan relasi sosial dan profesionalnya, guru hendaknya mampu bertindak tepat waktu dalam janji dan penyelesaian tugas-tugasnya. Pengelolaan waktu kerja menuntut perencanaan yang rasional dan berdisiplin dalam pelaksanaannya. Penggunaan waktu secara efisien dalam kaitannya dengan tugas keguruan dan pengembangan karir member harapan munculnya guru-guru yang bermutu.

B. Kompetensi Profesional

Dalam kenyataannya, kesepuluh kemampuan dasar guru yang dituntut dalam dokumen resmi tersebut masih menjadi harapan atau cita-cita yang mengarahkan mutu guru. Saat ini diduga masih banyak guru yang beum menguasai kesepuluh kemampuan dasar keguruan yang menjadi tolok ukur kinerjanya sebagai pendidik profeional, atau sebagian guru telah menguasai kesepuluh kemampuan dasar keguruan tersebut tetapi bobot mutualnya belum memadai (terstandar), atau sebagian guru menguasai beberapa dari kesepuluh kemampuan dasar keguruan tersebut dengan baik.

Dalam bagian T. Raka Joni: Kompetensi Kepribadian-Sosial DAN Kompetensi Profesional ini, akan diulas secara garis besar isi serta arahan preskriptif setiap butir kemampuan dasar keguruan tersebut, agar menjadi lebih jelas apa yang mesti diusahakan atau dikerjakan oleh guru dalam meniti serta mengembangkan karirnya.

1. Guru dituntut menguasai bahan ajar.
Teminologi menguasai berbeda dengan memahami. Memahami lebih bersifat personal, sedangkan menguasai menyangkut personal dan orang lain. Artinya kalau guru memahami bahan, gurulah yang memahami materi yang akan diajarkan. Tetapi kalau menguasai bahan berarti guru disamping dirinya memahami juga memiliki kemampuan untuk menjelaskan atau menyampaikan materi yang dipahami kepada siswa. Tidak semua guru memiliki kemampuan pemahaman terhadap materi mereka mampu menjelaskan materi kepada siswa.

Menguasai bahan memiliki dua hal. Pertama, menguasai bahan yang bersifat formal, yaitu penguasaan bahan yang ada dalam buku pokok atau buku panduan. Kedua, menguasai bahan yang bersifat pengayaan, yaitu penguasaan bahan dari beberapa ilmu lain yang memiliki relevansi dengan materi pokok dalam silbi.
2. Guru mampu mengelola program belajar-mengajar
Pengelolaan program belajar mengajar lebih menekankan pada kemampuan guru dalam menyusun perencanaan dalam pembelajaran, seperti, menyusun program semeteran, program tahunan, SKBM, rencana pembelajaran. Implikasi yang terkait dengan kemampuan mengelola program belajar mengajar, guru harus mengetahui kemampuan awal siswa, kondisi sosial siswa dll.

3. Kemampuan mengelola kelas
Kemampuan mengelola kelas lebih bermakna kemampuan guru dalam mewujudkan ketenangan kelas dalam prosses pembelajaran. Kerawanan dalam pengelolaan kelas, kerawanan ketertiban kelas, dan kerawanan semangat belajar disebabkan oleh banyak factor, salah satu factor penting adalah mutu pengajaran guru yang rendah.

4. Guru mampu menggunakan media dan sumber pengajaran
Media pengajaran adalah alat penyalur pesan pengajaran, baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung. Pendayagunaan media dan sumber pengajaran dapat berupa penggunaan alat buatan guru, pemanfaatan kekayaan alam sekitar untuk belajar, pemanfaatan perpustakaan, pemanfaatan laboratorium, pemanfaatan narasumber serta pengembangan pengajaran di sekolah, dan pemanfaatan fasilitas teknologis pengajaran yang lain.

Media dan sumber pengajar ada dua jenis, alat pendidikan atau pengajar dan alat peraga. Alat pengajaran adalah segala sarana yang dapat digunakan semua bidang mata pelajaran. Seperti, tape recorder, computer, televise, papan tulis, meja kursi gedung. Sedangkan alat peraga adalah sarana yang berfungsi khusus untuk mempercepat pemahaman materi salah satu sub pokok bahan tertentu.


5. Guru menguasai landasan-landasan kependidikan
Landasan-landasan kependidikan adalah sejumlah asumsi atau persepsi guru terhadap beberapa elemen dan realitas dalam pembelajaran, seperti asumsi guru terhadap siswa, belajar, mengajar, evaluasi dan lain-lain. Salah dalam mempresepsikan istilah tersebut, maka akan berakibat fatal dalam proses pembelajaran.

6. Guru mampu mengelola interaksi belajar mengajar
Kemampuan mengelola interaksi belajar mengajar lebih menitikberatkan pada kemampuan guru dalam menyampaikan materi yang dapat dipahami siswa. Yang terkait dengan kemampuan tersebut, guru harus memiliki teknik menyampaikan materi, melaksanakan metode, teknik menjawab pertnyaan.

7. Guru mampu menilai prestasi belajar siswa untuk kepentingan pengajaran
Secara umum yang harus dipahami guru bahwa penilaian jangan sampai dijadikan sarana untuk melakukan intimidasi terhadap murid, sehingga penilaian atau evaluasi cenderung membuat rasa cemas siswa. Dilihat dari aspek fungsional, penilaian pengajaran tersebut merupakan bagian integral dari sistem pengajaran. Jadi kegiatan penelitian meliputi penyusunan alat ukur, penyelenggaraan tes, koreksi jawaban siswa serta pemberian skor, pengolahan skor dengan menggunakan norma tertentu, pengadministrasian proses serta hasil penilaian, dan tindak lanjut penilaian hasil belajar yang berupa pengajaran remedial serta layanan bimbingan belajar bersifat tali-temali, dan seluruh tahapan penilaian diatas perlu diselaraskan dengan komponen sistem pengajaran yang lain.

8. Guru mengenal fungsi serta program pelayanan bimbingan belajar dan penyuluhan

Trimkasih udah membaca artikel T. Raka Joni: Kompetensi Kepribadian-Sosial DAN Kompetensi Profesional ini.

0 comments:

Post a Comment