Friday, May 25, 2012

Aung San Suu Kyi, Wanita Tangguh Asia Dalam Bingkai Internasional

Aung San Suu Kyi dan Nobel Perdamaian (Aung San Suu Kyi and Nobel Peace Prize) - Mendengar nama Aung San Suu Kyi, Saya langsung tertegun! Pikiran saya menerawang jauh ke belakang, tentunya kepada salah satu sosok wanita Indonesia yang merupakan pahlawan bagi kaumnya. Siapa lagi kalau bukan Raden Ajeng Kartini, atau lebih bangga kita sebut dengan "Ibu Kartini". Yah, kedua wanita ini sangat menginspirasi saya bagaimana untuk selalu memegang teguh keyakinan, walau harus dengan pengorbanan.


Aung San Suu Kyi, Wanita Tangguh Asia Dalam Bingkai Internasional

Aung San Suu Kyi [1](Bscript aungsansuukyi.png) adalah seorang aktivis pro demokrasi Myanmar dan pemimpin National League for Democracy (Persatuan Nasional untuk Demokrasi). Ia dilahirkan di kota Rangoon (sekarang menjadi Yangon), 19 Juni 1945. Ia adalah pejuang konsisten demi demokrasi dan hak-hak azasi manusia Myanmar. Ia teguh mempertahankan prinsip 'tanpa kekerasan' dalam perjuangan untuk demokrasi dan hak-hak manusia. Tokoh Aung San Suu Kyi adalah lambang dan ispirator perjuangan demi kebebasan, baik untuk Birma (sebutan lain untuk negara Myanmar, biasa juga disebut Burma), maupun bagi mancanegara. Ia memilih cara perjuangan 'tanpa-kekerasan', 'non-violence', sebagai prinsip perjuangan[2].

Beberapa kutipan dari isi hati beliau yang memperlihatkan betapa humble dan bahwa betapa rindunya beliau untuk mengenyam kemerdekaan bukan dengan kekerasan, melainkan dengan sentuhan kasih dalam tindak dan tutur, saya sertakan seperti di bawah ini (sumber kutipan dari Ibrahim Isa [2]):

“Prioritas utama saya ialah agar rakyat menyadari bahwa mereka sendiri punya kekuatan untuk mengadakan perubahan itu. Kemudian sama-sama kita bisa berbuat ”.
“Saya berharap bisa sama-sama minum teh dengan mereka, (para jendral junta Militer) pada setiap hari Sabtu. Sama-sama minum teh dengan santai dan bersahabat. Bila mereka menolak terus, maka bisa diajak bicara pada suatu minum kopi bersama”
Dari kutipan-kutipan di atas, dengan bahasa yang sederhana namun memiliki makna yang mendalam yang mungkin sangat sulit untuk didapati pada masa-masa sekarang ini yang erat dengan kekerasan dan kebrutalan.

Saya menulis artikel ini karena bukan tanpa sengaja, saya sudah menjadi pengikut atau follower VOA Indonesia di facebook [3] yang setia. Dan dalam update berita yang masuk ke dalam Dashboard saya, saya membaca sebuah berita dari VOA Indonesia yang berjudul "Aung San Suu Kyi akan Pidato di Konferensi Jenewa"[4] . Saya menjadi penasaran, untuk itu saya membuka dan membaca artikel tersebut, bahkan saya mencari dan mencari berita mengenai beliau. Dan saya semakin kagum dengan sosok beliau.

Seperti yang diberitakan oleh VOA Indonesia, bahwa Aung San Suu Kyi akan menyampaikan pidatonya pada Konferensi Buruh (ILO) di Jenewa bulan depan, yaitu tepatnya 14 Juni 2012. 

Aung San Suu Kyi, yang merupakan aktivis pro-demokrasi Myanmar, baru saja dilepaskan dari tahanan rumah pada tanggal 13 November 2010 setelah mendekam sebagai tahanan rumah selama 15 tahun dari 21 tahun masa penahanannya sejak pemilihan umum tahun 1990. Ia dibebaskan secara resmi oleh Junta Militer Myanmar.

Aung San Suu Kyi dan Nobel Perdamaian (Aung San Suu Kyi and Nobel Peace Prize)

Pada 1991, Aung San Suu Kyi sebenarnya menerima Penghargaan Perdamaian Nobel karena berjuang mempromosikan demokrasi di negaranya tanpa menggunakan kekerasan dalam menentang kekuasaan rezim militer. Namun, karena berada dalam penjara, beliau tidak dapat menerimanya secara langsung. Untuk itu, dalam perjalanannya yang pertama setelah bebas dari tahanan, beliau akan menuju Norwegia untuk menyampaikan Pidato Penerimaan Hadiah Nobel Perdamaian yang seharusnya ia terima pada 21 tahun lalu.

Sama halnya seperti Ibu Kartini yang menjadi srikandi yang memperjuangkan kemerdekaan kaum wanita di negeri yang tercinta ini, Aung San Suu Kyi pun adalah srikandi yang menjadi suri tauladan dalam memperjuangkan keadilan serta kebebasan bagi bangsa, negeri dan rakyat yang dicintainya. 

Yah, Aung San Suu Kyi, Wanita Tangguh Asia Dalam Bingkai Internasional, perjuanganmu tak akan sia-sia. Dirimu memang layak untuk menerima Nobel Perdamaian tersebut, dan patutlah engkau disejajarkan dengan para pejuang lainnya, Nelson Mandela, Indira Ghandi dan Jawaharlal Nehru.

Akankah ada Kartini-Kartini yang lain? atau Aung San Suu Kyi yang lain? Akankah ada wanita tangguh lainnya yang bisa terlahir dari negeri kita yang tercinta ini? Jawabannya ada di tangan anda!

Sumber referensi:
  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Aung_San_Suu_Kyi
  2. http://ibrahimisa.blogspot.com/2011/01/aung-san-suu-kyi-pejuang-konsisten.html
  3. https://www.facebook.com/pages/VOA-Indonesia/106193692833459
  4. http://www.voaindonesia.com/content/aung-san-suu-kyi-akan-pidato-di-konferensi-jenewa/918978.html
  5. (gambar 1) http://www.ilcaffegeopolitico.net/central_content.asp?pID=309

11 comments:

  1. Thanks david atas kunjungannya.

    ReplyDelete
  2. bener2 wanita tangguh :) patut jadi teladan semua orang. aku juga aru tau ada wanita seperti ini setelah menonton film The Lady. very good film

    ReplyDelete
  3. selamat u/ Aung San Suu Kyi
    semoga makin banyak generasi muda yg mencontohnya dalam menabur benih2 kedamaian :D

    ReplyDelete
  4. kayaknya cuma dimanfaatkan oleh negara-negara lain yang ingin menguasai myanmar, biar bisa masuk ke myanmar soalnya sejak di bawah junta militer, negara asing jadi sulit masuk ke myanmar

    ReplyDelete
  5. @Sherly: Yup aku setuju, the Lady sangan inspiratif buanget deh.

    @Contoh: Ada dong, kan ada ibu kartini, tapi jaman sekarang, itu yang dipertanyakan. Wong sekarang wanita2 yang duduk di kursi pemerintahan malah jago Korupsi dari pada laki2. Patut dipertanyakan kan??!!

    @ Bima: Setuju. Kalo bisa dari Indonesia bisa terlahir yang baru gan hehehe

    @resep: Kayaknya perspektif akan dunia barat yang 'buruk' telah merusak citra dan kekhasan negara Indonesia sendiri deh. Contoh konkritnya neh, waktu saya mengikuti pertemuan kaum muda di Madrid, spanyol (dan beberapa negara disana sempat kami kunjungi seperti Belanda dan Prancis) dan ternyata mereka lebih ramah, bahkan melebihi orang2 Indonesia sendiri. Baru bertemu aza, walau mereka gak tau bahasa Inggris, mereka tetap datang menyalami dan mencium kita. Luar biasa. Walau kita meladeni mereka dengan bahasa isyarat pun mereka malah semakin senang dan memberikan hadiah kepada saya. Lah, katanya orang Indonesia yang paling sopan? menurut aQ, orang spanyol lah yang paling sopan dari semua yang pernah aku temui deh...

    ReplyDelete
  6. Aku kalo melihat Aung San Suu Kyi, aku smakin terenyuh dengan kondisi wanita Indonesia saat ini. Sama seperti yang diungkapkan ama Mario, kok wanita2 kita yang duduk di bangku sana sungguh2 merusak citra yang dibangun ama Ibu Kartini. Sungguh memalukan. Coba seperti Aung San Suu Kyi yang teguh paa pendiriannya dan membela kaum yang memang ia harus bela. Selamat buat The LAdy, Dikau memang cocok untuk mendapatkan Nobel tersebut. Bravooo

    ReplyDelete
  7. Replies
    1. Thankz, justru template agan yang saya lihat keren ... hehehee habis jalan2 kesana tuh

      Delete