Saturday, April 7, 2012

MEREFLEKSIKAN PUISI, CARA MENENTUKAN MAKNA PUISI

   Merefleksi adalah mencerminkan kata atau ucapan seseorang. Merefleksi isi puisi ialah mencerminkan kata-kata yang terdapat dalam puisi. Dapat diartikan pula memahami makna puisi. Makna atau isi puisi seringkali disampaikan secara tersirat dan bukan secara terang-terangan. Terkadang seorang penyair menggunakan kata-kata simbolik atau ungkapan tertentu dalam menyampaikan isi atau pesan suatu puisi. Hal ini membuat puisi terkadang sulit untuk dipahami. Akan tetapi, hal tersebut juga menjadikan puisi lebih indah.

   Bagi pecinta puisi, keindahan kata-kata dalam puisi dapat memunculkan perasaan atau emosi tertentu. Namun, puisi tidak harus selalu menggunakan kata-kata yang berbelit-belit. 

   Dalam memahami makna puisi diperlukan kejelian dan kecermatan dalam membaca kata-kata dalam puisi. Bahasa yang digunakan seringkali berbeda dengan bahasa sehari-hari dengan pemilihan kata yang tepat, tersusun indah serta bermakna kuat.


Perhatikan contoh berikut!

Bila cinta memanggilmu, ikutlah dia.
Walaupun jalannya terjal penuh liku.
Bila sayapnya merengkuhmu, pasrahlah.
Walau pedang di sela sayap itu melukaimu.
(Kahlil Gibran, "Bahasa Cinta") 

     Merefleksikan puisi berarti mengungkapkan isi puisi ke dalam bentuk prosa. Untuk memudahkan hal itu, perlu menentukan makna denotasi dan makna konotasinya.

Contoh:

    Dengan Puisi, Aku 

Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala
          Dengan puisi aku mengenang
          Keabadian yang akan datang
          Dengan puisi aku menangis
          Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengetuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya
                               (Taufik Ismail)

Setelah mencermati, menentukan makna konotasi dan denotasinya, maka makna seluruh isi puisi tersebut sebagai berikut:

Makna puisi; Dengan Puisi, aku
Penyair berharap dengan puisinya ia ingin bernyanyi
sampai lanjut usia. Dengan puisi, ia juga ingin
Menyayangi sekitarnya. Dengan puisi pula ia ingin
Merenungkan kehidupan yang telah dilaluinya dan
kehidupan yang akan datang. Penyair juga
mengutuk keadaan masyarakat yang telah rusak,
jauh dari norma dan etika. Tetapi penulis tetap
berdoa agar semua berubah ke arah yang lebih baik.

0 comments:

Post a Comment