Thursday, February 2, 2012

TUJUAN PASTORAL KATOLIK ROMA


Kita menimba inspirasi dari sabda dan teladan Yesus, Gembala yang baik, khususnya mengenai tujuan kedatangan-Nya. Ada tertulis di dalam Injil: ”Aku datang, agar mereka mendapat hidup dalam segala kelimpahannya” (Yoh 10:10).

Dengan demikian tujuan kedatangan Kristus Sang Gembala itu harus menjadi tujuan pastoral. Tujuan pastoral adalah agar umat ang didampingi mencapai hidup dalam segala kelimpahannya. Apa dan bagaimanakah hidup yang berlimpah-limpah itu?

  1. Hidup yang berlimpah-limpah.
“Berlimpah-limpah” tak mengenal batas ke atas. Oleh karenanya, makna dari kata-kata itu kita biarkan terbuka. Hidup yang berlimpah-limpah mengandung makna bahwa kita tidak boleh berpuas diri dengan kehidupan seperlunya atau secukupnya saja (mediocritas, apa lagi minimalisme). Baik dalam hidup Kristiani pada umumnya, maupun dalam pastoral sebagai usaha membina hidup itu kita tidak boleh berhenti pada suatu momen dan berpuas diri. Kita harus menjangkau apa yang lebih dari itu, karena memang disediakan oleh Kristus untuk disalurkan lebih lanjut. Kelimpahan tidak hanya diambil dalam arti kuantitatif, melainkan juga dan terutama dalam arti kualitatif. Kelimpahan itu  meliputi aneka aspek yang terkait. Dengan demikian jelaslah, bahwa pastoral mengacu kepada manusia seutuhnya dalam cahaya iman.

  1. Manusia seutuhnya.
“Seutuhnya” menyangkut pandangan yang tidak membatasi, melainkan yang luas dan melihat manusia sebagaimana dikonsepkan oleh Tuhan.
“Seutuhnya” dapat diambil dalam arti “menurut aneka aspeknya” yang masih harus berkembang. Maka ‘seutuhnya’ sekaligus juga berarti “menurut aneka cikal bakal kemampuan dan kebutuhan.”

  1. Manusia menurut aneka kebutuhannya.
Adakorelasi antara kebutuhan-kebutuhan dan aspek-aspek manusia seutuhnya yang dicita-citakan dan dituju. Manusia dibekali dengan aneka cikal bakal kemampuan yang masih harus dikembangkan sehingga tampil dalam bentuk kebutuhan yang harus dipenuhi.

  1. Manusia menurut aneka aspeknya.
Aspek-aspek yang lazim disebut ialah: fisik, psikis, intelektual, kultural, sosial, religius, moral, ekonomis, politis yang saling berkaitan. Sejauh menyangkut anak kecil aneka kebutuhan itu masih dapat dilayani oleh orang tua dengan bantuan beberapa pihak. Tetapi bila sudah mencapai jenjang agak tinggi dan dibutuhkan keahlian yang lebih khas dan khusus, diperlukan pembagian tugas (spesialisasi tanpa mengabaikan keseluruhannya).

  1. Manusia menurut hidup “rohaninya”
Pastoral hanyalah salah satu aspek, betapapun pentingnya dan luasnya. Dengan demikian, maka pastoral mengandaikan aneka aspek lainnya.

Asalkan ditafsirkan dengan baik, pastoral dapat dikatakan lebih memperhatikan aspek berupa hidup rohani dalam arti seluas-luasnya. Kita menyadari konotasi kurang tepat yang dapat dikaitkan dengan ungkapan “rohani”, yakni dualisme spiritualitas. Maka perlu digarisbawahi bahwa “roh” dan “rohani” tidak dimengerti sebagai bagian, melainkan dalam arti aslinya seperti yang dipakai dalam Perjanjian Lama, yakni “ruakh” sebagai aspek manusia yang menonjolkan hubungannya dengan Yahwe.

Perjanjian Lama, tetapi juga Perjanjian Baru tidak mengenal ”dualisme” (pembagian manusia atas tubuh dan jiwa) dan trikhotomia (pembagian manusia atas tubuh, roh dan jiwa). Benar-keduanya-dalam beritanya memakai ungkapan-ungkapan antropologis yang berbeda-beda untuk manusia: nefesy, ruakh (Perjanjian Lama): soma, psyche, pneuma (Perjanjian Baru). Tetapi yang dimaksudkan dengan ungkapan-ungkapan itu bukanlah unsur-unsur antropologis, yang secara dualisme atau trikhotomis berdiri berdampingan, melainkan sebutan untuk keseluruhan hakekat manusia. Menurut kesaksian Kitab Suci, manusia adalah suatu “nefesy chayya”, suatu “makhluk hidup” (Kej 2:7). Sebagai suatu totalitas, ia telah diciptakan; sebagai suatu totalitas, ia telah jatuh dalam dosa, dan sebagai totalitas, ia telah diselamatkan. Ia tidak hanya mempunyai jasmani dan rohani, melainkan ia adalah kedua-duanya.

Kitab Suci menganggap tubuh dan jiwa, jasmani dan rohani sebagai suatu kesatuan, suatu dwitunggal. Jika Kitab Suci berbicara tentang ”nefesy” dan “ruakh” (jiwa/nafas dan roh) atau tentang “soma”, “psyche” dan “pneuma” (tubuh, jiwa dan roh) maka yang dimaksudkannya ialah manusia seluruhnya, manusia sebagai kesatuan. Karena itu tiap-tiap usaha pastoral yang mau melayani manusia harus memperhatikan hal ini. Demikian pula di dalam memahami istilah  manusia menurut hidup ”rohaninya.” 

0 comments:

Post a Comment