Thursday, February 9, 2012

PENGERTIAN KURIKULUM SECARA ETIMOLOGI DAN EPISTEMOLOGI | DEFINISI KURIKULUM


PENGERTIAN ATAU DEFINISI KURIKULUM SECARA ETIMOLOGI DAN EPISTEMOLOGI - Baiklah sobat Jufry semua, kali ini saya mau share dikit tentang apa sih yang dimaksud dengan Kurikulum baik secara Etimologi (asal kata), maupun secara epistemologi (pandangan para ahli). 

Secara Etimologi, istilah kurikulum berasal dari bahas latin yakni “Curricule” artinya jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari. Pada waktu itu pengertian kurikulum ialah jangka waktu pendidikan yang harus ditempuh oleh siswa yang bertujuan untuk memperoleh ijazah (Oemar Hamalik 2008:16).


Beberapa pengertian kurikulum menurut para ahli (Epistemologi):
  1. J. Galen Saylor dan William M. Alexander dalam buku Curriculum Planning For Better Teaching And Learning (1956) menjelaskan arti kurikulum sebagi berikut. “ the curriculum is the sum total of school’s efforts to influence learning, whether in the clasroom, on the play ground or out of school ” jadi segala usaha sekolah untuk mempengaruhi anak belajar, apakah dalam ruang kelas, di halaman sekolah atau di luar sekolah termasuk kurikulum. Kurikulum meliputi juga apa yang disebut kegiata ekstra-kulikuler
  2. Harlold B. Albertycs dalam Reoganizing The High-School curriculum (1965) memandang kurikulum sebagai “ all of the activities that are provided for students by the school” seperti halnya dengan definisi  saylor dan alexander kurikulum tidak terbatas  pada mata pelajaran, akan tetapi juga meliputi kegiatan kegiatan lain didalam dan diluar kelas, yang berada dibawah tanggung jawab sekolah. Difinisi melihat manfaat kegiatan dan pengalaman siswa di luar mata pelajaraan tradisional 
  3. B. Othanel smith, W.O stanley dan J Harlan Shores memandang kurikulum sebagai “ a sequence of potential experiences set up in the school for the purpouse of disciplining childern and youth in group ways of thinging and acting” . mereka melihat kurikulum sebagai sejumlah pengalaman  yang secara potentsial dapat diberikan kepada anak dan pemuda, agar mereka dapat berpikir dan berbuat sesuai dengan masyaraka.
  4. William B ragam dalam buku Moderen Elemntery Curiculum (1966) menjelaskan artio kurikulum sebagai berikut “ The tendency in recent decades has been to use the term in broder sense to the whole life and program of the school, the term is used.” Ragan menggunakan kurikulum dalam arti yang luas, yang meliputi seluruh program dan kehidupan dalam sekolah, yakni segala pengalaman anak dibawah tanggung jawab sekolah. Kurikulum tidak hanya meliputi bahan pelajaran tetapi meliputi seluruh kehidupan dalam kelas, jadi hubungan sosial antara guru dan murid, metode mengajar cara mengevaluasi termasuk kurikulum.
  5. J  Liyord Trump dan Delmes F millers dalam buku Secondary School Improvement (1973) juga menganut definisi kurikulum yang luas. Menurut mereka dalam kurikulum juga termasuk metode mengajar dan belajar, cara mengevaluasi murid dan seluruh program, perubahan tenaga mengajar, bimbingan dan penyuluhan, supervisi dan adminstratif dan hal hal setruktural yang mengenai waktu, jumlah ruang serta kemungkinan memilih mata pelajaran. Ketiga aspek pokok, program, manusia dan fasilitas sangat erat hubungannya, sehingga tak mungkin diadakan perbaikan  
  6. Alice Miel juga menganut pendirian yang luas mengenai kurikulum. Dalam buku changing the curriculum: a social process (1946) ia mengemukakan bahwa kurikulum juga meliputi keadaan gedung, suasana sekolah, keinginan, keyakinan, pengetahuan dan sikap orang orang melayani dan dilayani sekolah, yakni anak didik, masyarakat, para pendidik dan personalia (termasuk penjaga sekolah, pegawai administrasi, dan orang orang lainya yang ada hubungannya dengan murid-murid)  (S. Nasution 2008 : 5) 

0 comments:

Post a Comment