Wednesday, February 1, 2012

MENINGKATKAN MINAT BELAJAR ANAK / SISWA


Meningkatkan minat belajar anak atau siswa sebenarnya tidaklah terlalu sulit akan tetapi tidak juga sebuah hal yang mudah untuk dilakkukan. Cara sederhana dalam meningkatkan minat belajar anak adalah kenali dahulu hal-hal apa yang disukai oleh anak dan ajak dia melakukan hal tersebut, jangan terlalu mendikte mereka untuk melakukan apa yang menjadi kehendak kita karean hal tersebut justru membuat mereka tidak berkembang dalam berfikir. Maka hal yang harus dilakukan pertama-tama adalah padukan hal-hal yang anak sukai dengan menambahkan pendidikan di dalamnya. Pasti minat belajar si anak pun akan meningkat. Intinya, bermain dengan dunia mereka sambil belajar.
Kuncinya adalah mengetahui apa yang dapat membuat anak tertarik dan ingin belajar. Bagi anak usia delapan tahun ke bawah, belajar harus berangkat dari minat si anak itu sendiri. Sekretaris Jenderal Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (Asah Pena) Indonesia Dhanang Sasongko berpendapat, sifat dasar anak adalah senang belajar. Itu bisa terlihat sejak usia dini. Dimulai dari anak belajar berjalan, dia jatuh dan bangkit lagi atas kemauan sendiri.

Sayangnya, lanjut dia, ketika anak menginjak usia empat tahunan, banyak terjadi intervensi orang dewasa, dalam hal ini orang tua. Dengan begitu minat belajar anak sesungguhnya itu menjadi terintervensi. Anak belajar karena kewajiban dan dorongan dari orang tua. “Akhirnya dia menjadi tertekan,” kata Dhanang.
Prinsip dasar belajar anak-anak haruslah menyenangkan . Karena dengan belajar menyenangkan akan menumbuhkan emosional yg positif. Dalam proses belajar, anak harus diposisikan sebagai subjek dan bukan objek. Sebaiknya anak belajar atas inisiatif diri sendiri.
Bila dalam proses belajar, si anak menjadi objek, maka yang banyak melakukan intervensi adalah pendidik. Si anak dijadikan robot dan terlalu banyak diarahkan oleh pendidik. Hasilnya akan membuat anak menjadi malas belajar, belajar tidak efektif.
Dalam system belajar, anak harus ikut terlibat dlm proses pembelajaran. Salah satu caranya mungkin sebaiknya dalam satu kelas jangan sampai terlalu banyak siswa. Problem yang akan terjadi akan ada anak-anak yang merasa tidak diperhatikan. Dengan begitu minat belajarnya karena keterpaksaan.
Solusinya, guru dituntut punya kompetensi dengan kondisi-kondisi yang terjadi sekarang ini. Guru perlu memahami bahwa anak didiknya adalah subjek. “Secara psikologi, guru-guru juga harus memahami keanekaragaman minat belajar anak,” ujar Dhanang.
Dia menyarankan, dalam proses belajar perlu dikembangkan metode pelajaran tematik yang aplikatif. Ada pembahasan-pembahasan atas sebuah masalah. Misalkan soal banjir, mungkin saja dari pembahasan itu mundul ide-ide yang luar biasa dan cemerlang dari anak. Atau dalam pelajaran mengenai stek tumbuhan, anak-anak bisa diajak untuk mempraktikkan langsung dilapangan.
Kalaupun tidak bisa melakukan kegiatan praktik diluar ruang, bisa saja dengan cara menyajikan sejumlah materi tematik dan contohnya via media visual di dalam kelas.
Sebagai contoh, Dhanang menunjukkan apa yg sudah dilakukan di sekolah-sekolah alam. Ternyata anak-anak lebih mudah menyerap pelajaran dengan baik dan menyenangkan.  “Belajar tidak hanya teori. Teori dibutuhkan dalam rangka mengejar standardisasi kurikulum. Tapi untuk mencapai tujuan-tujuan itu, perlu ada media belajarnya yang menyenangkan bagi anak,” kata Dhanang.

Sementara itu, marlina, guru sekolah rumah di Perumahan Bumi Sawangan Indah Depok, mengaku punya trik jitu dalam mengajak anak agar tertarik belajar. Sebelum mulai mengajar, terlebih dulu dia harus mengetahui hal-hal apa saja yang disukainya dan tidak disukai.
“Nah, dari situ bila ada anak yang sedang malas belajar, saya mengajak dia melakukan suatu kegiatan yang disukainya,” katanya. Misalnya anak suka menggambar, sebelum mengajak si anak belajar, terlebih dulu dia di ajak menggambar beberapa saat. Selanjutnya, setelah mood belajarnya bangkit. Barulah si anak diajak belajar lagi.


REWARD YES, PUNISHMENT NO
Sebisa mungkin orang tua memberikan reward atau penghargaan kepada anak atas berbagai prestasi yang dilakukan. Sebaliknya sedapat mungkin menghindari bentuk punishment atau hukuman. Sebab, hukuman yang kelewat batas akan membuat harga diri anak down atau turun.
“Jenjang pendidikan anak masih jauh dan panjang, hasil sebuah proses belajar tidak bisa diukur oleh satu hari, satu minggu atau satu bulan. Tapi merupakan proses berkelanjutan. Untuk itu orang tua perlu memberikan reward dan dorongan, “kata Dhanang Sasongko, sekjen Asah Pena Indonesia.
Menurut dia, dasar untuk mendorong minat belajar anak, kita perlu meningkatkan rasa percaya diri anak. Sebagai contoh : bila anak mendapat nilai matematika jelek, 4, orang tua dpt mendorongnya dengan mengatakan: “Oh iya putra/i dapat nilai 4 ya. Tidak apa-apa dulu ayah/ibu juga pernah kok dpt nilai 4 tapi setelah mencoba memperbaikinya, ternyata ayah bisa berhasil dapat angka 8.
Seorang anak tidak mungkin dapat menguasai semua mata pelajaran. Mungkin ada anak yang unggul disatu pelajaran lain. Kemudian orang tua justru memberikan anak les dipelajaran yang lemah tadi. Sedangkan pelajaran yg unggul justru dilupakan.
Menurut Dhanang, ditinjau dari sudut perkembangan anak, apa yang dilakukan orang tua tadi agak keliru. Kenapa bukan keunggulan si anak tadi yang diasah dan dikembangkan terus. Nah, yang kurang itu hanya sebagai pelengkap.
“Jangan sebaliknya malah yang kurang didorong terus dan dipaksakan sehingga anak menjadi tertekan. Akhirnya, anak menjadi stress dan keunggulannya pun akhirnya hilang,” ujarnya.
Mengenai bentuk reward yang kerap diberikan orang tua ketika anaknya berhasil dalam pelajaran sekolah, Dhanang berpendapat, hal itu boleh-boleh saja sejauh dalam rangka menunjang kegiatan belajar si anak.
Namun, dia mengigatkan, sebisa mungkin nilainya tidak terlalu mahal dan terkesan wah bagi si anak. Ini dimaksudkan agar anak punya standar keinginan atas reward-nya. “Reward diberikan hanya dalam rangka memotivasi anak,” tegasnya
Hal terpenting adalah memberikan kasih sayang kepada anak. Terkadang anak berbuat baik, orangtua tidak memberikan reward karena hal itu dianggap biasa saja, tapi manakala si anak berbuat tidak baik, maka orang tua memberikan reaksi luar biasa dengan memberikan punishment.
Dhanang mengatakan, orang tua harus mengubah paradigma terhadap anaknya. Bahwa anak berbuat baik itu bukanlah hal yang biasa, tapi merupakan suatu hal yang luar biasa. Dalam setiap tindakan mereka, mereka berkembang. Berkembang dari A +1. Dan perkembangan itu haruslah mendapat apresiasi dari kita, sebagai orang tua, sehingga mereka menyadari bahwa mereka telah mendapatkan suatu pelajaran yang mereka lakukan sendiri karena usaha mereka sehingga kelak hingga dewasa mereka mampu untuk belajar bagi diri mereka sendiri, bukan menunggu dikte dari orang lain.

0 comments:

Post a Comment