Monday, February 13, 2012

LANDASAN PEDAGOGIS SKM/SSN (SEKOLAH KATEGORI MANDIRI/SEKOLAH STANDAR NASIONAL)


Dengan dimaksudkannya wajib belajar 12 tahun, maka perhatian masyarakat seluruhnya mengarah pada pendidikan. Dengan semakin berkembangnya pendidikan bagi khalayak ramai, semakin bervariasi juga kualitas sekolah-sekolah yang ada. 

Sekolah-sekolah di Indonesia dibagi ke dalam beberapa kategori berdasarkan kelayakan dan prestasi dari sekolah tersebut. Sebut saja Sekolah Kategori Mandiri, Sekolah Standar Nasional dan Sekolah Standar Internasional. dan pada kesempatan ini, kita akan fokus pada Sekolah Kategori Madiri atau SKM dan Sekolah Standar Nasional atau SSN.

Untuk itu berikut ini akan dibahas tentang Landasan Pedagogis tentang SKM dan SSN seperti berikut ini:

LANDASAN PEDAGOGIS SKM/SSN (SEKOLAH KATEGORI MANDIRI/SEKOLAH STANDAR NASIONAL) - Pendidikan memegang peran penting dalam  meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Menurut Rousseau (Emile, 1762), tujuan utama pendidikan adalah memberi kemampuan pada manusia untuk hidup di masyarakat.  Kemampuan ini   berupa pengetahuan  dan/atau keterampilan, serta prilaku yang diterima masyarakat.  Kemampuaan seseorang akan dapat berkembang secara optimal apabila memperoleh pengalaman belajar yang tepat. Untuk itu lembaga pendidikan dalam hal ini sekolah harus  memberi pengalaman belajar yang  sesuai dengan potensi dan minat   peserta didik.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan berfungsi sebagai lembaga sosial atau dapat dipandang sebagai lembaga ekonomi non profit. Sebagai  lembaga sosial, sekolah memberikan pelayanan kebutuhan pendidikan dan pengajaran bagi masyarakat, sedangkan sebagai lembaga ekonomi, sekolah menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi ekonomi untuk hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Hal ini dilihat dari hasil pendidikan yang memiliki  dampak sosial dan ekonomi kepada masyarakat. Dampak ekonomi dapat dilihat dari peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dampak sosial dapat dilihat pada kehidupan bermasyarakat yang tenteram, aman, dan sentosa. Etika moral dan akhlak mulia masyarakat dapat dibangun melalui pendidikan, untuk memberi ketenteraman  kepada masyarakat. Kesejahteraan masyarakat tidak hanya bersifat material tetapi juga sosial. Oleh karena itu semua negara berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Peningkatan kualitas pendidikan harus dilakukan  secara terus menerus dan berkesinambungan. Menurut Quisumbing (2003), kualitas pendidikan bersifat dinamis,saat ini berkualitas namun saat mendatang mungkin sudah ketinggalan. Oleh karena itu peningkatan kualitas pendidikan harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan.

Faktor yang menentukan kualitas pendidikan antara lain kualitas pembelajaran dan karakter peserta didik yang meliputi bakat, minat, dan kemampuan. Kualitas pembelajaran dilihat pada  interaksi peserta didik dengan sumber belajar, termasuk pendidik. Interaksi yang berkualitas adalah yang menyenangkan dan menantang. Menyenangkan berarti peserta didik belajar dengan rasa senang,  sedangkan menantang  berarti ada pengetahuan atau keterampilan yang harus dikuasai untuk mencapai kompetensi.

Pencapaian kompetensi peserta didik yang menjadi tujuan pembelajaran ditentukan oleh karakter peserta didik yang berbeda satu dengan lainnya, dan memiliki keunikan. Karakter ini merupakan fungsi dari keturunan, pengalaman, perspektif, latar belakang, bakat, minat, kapasitas, kebutuhan dan faktor lain dari kehidupan (Stott, Fink & Earl, 2003).

Tugas sekolah adalah mengembangkan potensi peserta didik secara optimal menjadi kemampuan yang berguna bagi dirinya untuk hidup di masyarakat.  Holland (1973) mengajukan 6 skala inventori preferensi yang meliputi dimensi intelektual, realistik, artistik, sosial, pengusaha, dan konvensional.  Konfigurasi yang diajukan Holland berkaitan dengan potensi peserta didik. Apabila diketahui profil potensi peserta didik, maka perlakuan yang dirancang akan bisa lebih tepat, sehingga potensinya dapat dikembangkan secara optimal.

Peserta didik yang berada pada dimensi intelektual akan cocok belajar di  program studi matematika, dan ilmu-ilmu alam, sedang yang berada pada dimensi  realistik cocok belajar di program studi teknik mesin, teknik sipil, pertanian, dan konstruksi. Mereka yang berada pada dimensi konvensional akan sukses belajar pada program studi yang berhubungan dengan pemrosesan data, manajeman bisnis, akuntansi, sedang yang berada pada dimensi pengusaha cenderung sukses bila belajar pada program studi yang berkaitan dengan pemasaran dan  hubungan publik.

Selanjutnya mereka yang berada pada dimensi artistik akan cocok bila belajar pada program studi yang berkaitan dengan teologi, psikologi klinis, seni, dan musik, sedang yang berada pada dimensi sosial akan cenderung sukses bila belajar pada program studi yang berkaitan dengan sejarah,budaya,paedagogi, bimbingan dan konseling, serta bahasa.

Gardner (Stott, Fink & Earl, 2003) mengidentifikasi ada  inteligensi peserta didik, yaitu, lingusitik, logika matematik, musik, kinestetik, spasial, naturalist interpersonal, dan intrapersonal. Hal ini berarti tiap peserta didik memiliki kemampuan yang berbeda pada delapan inteligensi seperti yang dikemukan Gardner. Seorang peserta didik mungkin saja sangat menonjol dalam mata pelajaran yang membutuhkan kemampuan logika seperti matematika dan fisika namun kurang bagus dalam mata pelajaran yang memerlukan kemampuan keruangan (spatial). Implikasinya adalah peserta didik diberi peluang untuk mengembangkan potensinya sesuai dengan inteligensinya. Peserta didik diyakini dapat belajar secara optimal bila memiliki kebebasan memilih mata pelajaran yang akan diikuti sesuai dengan potensi dan minatnya. Pemberian perlakuan kepada  peserta didik sesuai dengan potensi yang dimilikinya merupakan   tugas sekolah.

Peserta didik diyakini memiliki kecepatan, motivasi, dan minat belajar yang berbeda satu sama lain. Marsh (1996) menyatakan “Children can develop at very different paces and levels”. Penerapan konsep tersebut adalah jumlah mata pelajaran yang diikuti setiap semester tidak sama, tetapi ditentukan berdasarkan prestasi belajar peserta didik pada semester sebelumnya. Perbedaan beban belajar tersebut bertujuan memberi peluang peserta didik mencapai ketuntasan minimal pada semua mata pelajaran sehingga dapat menyelesaikan program pembelajaran dengan baik dalam rentang waktu yang berbeda. Penerapan konsep tersebut diharapkan dapat memotivasi peserta didik dengan berbagai tingkat kepandaian untuk belajar dan berusaha mencapai prestasi optimal.

Di samping itu, peserta didik adalah individu yang memiliki kebutuhan berbeda satu sama lain. Maslow (Marsh, 1996) menyatakan bahwa salah satu kebutuhan manusia adalah “being recognised as unique”. Oleh karena itu, kurikulum pada sekolah mandiri yang menggunakan sistem kredit akan  memberi peluang peserta didik untuk memilih pelajaran yang  sesuai dengan potensi dan minatnya.

Penerapan sistem kredit semester (SKS) pada Sekolah Kategori Mandiri/ Sekolah Standar Nasional merupakan realisasi konsep manajemen sekolah dan fungsi guru sebagai fasilitator yang membantu  peserta didik untuk mengembangkan potensinya. Penerapan sistem kredit semester merupakan salah satu upaya peningkatan mutu layanan pembelajaran yang diharapkan dapat memotivasi peserta didik mengembangkan potensinya dan diharapkan dapat meningkatkan mutu lulusan. source: Dit. Pembinaan SMA, Ditjen. Manajemen Dikdasmen

0 comments:

Post a Comment