Thursday, February 2, 2012

KEBUTUHAN AKAN PASTORAL SEKOLAH DI SEKOLAH KATOLIK


KEBUTUHAN AKAN PASTORAL SEKOLAH DI SEKOLAH KATOLIK - Adanya kebutuhan nyata dari umat Katolik dalam hal pendidikan Katolik yang baik, mendorong Gereja untuk mendirikan sekolah-sekolah Katolik. Dari segi lain, Gereja juga melihat adanya kesempatan untuk melayani masyarakat setempat melalui bidang pendidikan, maka Gereja mendirikan sekolah-sekolah Katolik. Dan memang, Gereja Katolik berhasil memiliki sekolah-sekolah yang bermutu dan diminati oleh masyarakatluas, bahkan tidak hanya oleh umat Katolik saja.
Sekolah-sekolah Katolik dicintai oleh masyarakat termasuk umat Katolik sendiri, karena ke-Katolikannya dan mutunya. Dan semakin berhasil, maka semakin banyak pula tantangan-tantangan yang harus dihadapi oleh sekolah-sekolah Katolik. Tantangan-tantangan yang harus dihadapi oleh sekolah-sekolah Katolik meliputi tantangan-tantangan yang terkait dengan masalah ke-Katolikan maupun mutu sekolah. Gedung sekolah yang megah, laboratorium yang lengkap, guru-guru yang sarjana serta fasilitas lain relatif dapat diadakan dengan mudah demi peningkatan mutu. Akan tetapi tantangan yang berupa masalah ke-Katolikan sehubungan dengan fungsi pastoral sekolah-sekolah Katolik, memerlukan pemikiran tersendiri yang mendalam dan terus menerus karena menyangkut pribadi orang-orang yang terlibat baik secara langsung maupun tidak di dalam proses pendidikan dan pengajaran pada sekolah-sekolah yang bersangkutan.
Dewasa ini masih sangat terbuka kesempatan bagi sekolah-sekolah Katolik untuk melaksanakan tugas pastoralnya, yakni melaksanakan amanat Gereja bagi sekolah-sekolah Katolik, yaitu: pelayanan. Lagi pula jumlah siswa Katolik yang bersekolah di sekolah-sekolah Katolik juga banyak. Inilah yang harus kita pandang sebagai suatu ”kesempatan” yang masih terbuka bagi pastoral, atau merupakan tantangan yang harus dijawab. Kalau kita mau diam saja, sebenarnya juga bisa. Akan tetapi kalau kita diam saja, itu berarti bahwa kawasan pengabdian kita menjadi semakin sempit dan semakin kurang berarti. Kesempatan ini merupakan tantangan yang menuntut jawab baik segi kualitas maupun kuantitas.
Mengingat bahwa pengelolaan pendidikan semakin tidak bisa hanya berdasarkan intuisi belaka, melainkan harus berdasarkan penalaran, maka perlu disusun strategi untuk menghadapi masa depan yang penuh tantangan itu, yang sekaligus sebagai ”kesempatan” berpastoral sekolah. Kita menyadari bahwa kalau mau berbuat sesuatu itu harus dimulai dari sekolahan, mulai dari mendidik orang-orang di sekolah. Banyak orang menyadari bahwa sekolah-sekolah Katolik itu mempunyai peranan penting bagi perkembangan Gereja Katolik di masa depan khususnya, maupun masyarakat masa depan pada umumnya.
Jadi, kalau sekarang kita tidak menyusun strategi untuk masa depan dan kita lebih mengarahkan perhatian hanya pada karya-karya yang kelihatannya lebih menarik untuk masa kini, maka kita pasti akan disalahkan oleh generasi yang akan datang, sebab ada kesempatan baik tetapi tidak kita manfaatkan dan bahkan kita lewatkan saja. Mengenai hal ini, Gereja mengingatkan kepada lembaga-lembaga religius penyelenggara pendidikan Katolik sebagai berikut: ”Hendaknya lembaga-lembaga religius yang mempunyai perutusan khusus di bidang pendidikan, setia pada perutusan itu dan mencurahkan segala tenaganya  di bidang pendidikan Katolik, pun melalui sekolah-sekolah yang mereka dirikan melalui persetujuan Uskup diosesan (KHK, Kanon 801).” Konggregasi untuk Pendidikan Katolik dalam bukunya yang berjudul Sekolah Katolik (19 Maret 1977), No. 89 menghimbau kepada biarawan-biarawati penyelenggara sekolah Katolik, sebagai berikut: ”Semoga mereka setia kepada ilham para pendiri mereka dan mendukung dengan sepenuh hati karya kerasulan pendidikan di Sekolah Katolik dan tidak membiarkan diri mereka dibelokkan dari hal itu oleh ajakan-ajakan yang menarik untuk mengerjakan karya kerasulan lain, yang sering nampaknya lebih efektif.”
Karya pendidikan Katolik berhadapan langsung dengan pihak-pihak yang berkepentingan. Mereka mempunyai harapan yang berbeda-beda. Mereka ingin agar semua harapan itu sedapat mungkin dipenuhi. Harapan-harapan itu bisa berubah dan bisa meningkat sesuai dengan perkembangan situasi lingkungan. Namun ada sesuatu yang tidak berubah, yakni nilai-nilai dan cita-cita. Nilai-nilai dan cita-cita pastoral sekolah harus dirumuskan dengan jelas. Cita-cita itu harus mengandung rumusan nilai-nilai Kristiani dan sosial budaya. Namun kita juga harus realistis, sebab modal kita terbatas, yakni guru, dana, sarana-prasarana, citra sekolah Katolik di mata masyarakat. Pasukan terdepan untuk memanfaatkan kesempatan yang masih terbuka lebar demi penanaman nilai-nilai dan terwujudnya cita-cita Kristiani adalah personalia, terutama guru.
Keberhasilan pastoral sekolah di sekolah-sekolah Katolik terutama tergantung dari guru-gurunya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Konggregasi untuk Pendidikan Katolik: ”Tercapainya tujuan khusus sekolah Katolik lebih banyak tergantung pada mereka yang bekerja di sekolah daripada bahan pelajaran atau metodologi (Sekolah Katolik No. 43).” Selanjutnya dinyatakan bahwa: ”Melalui kesaksian dan tingkah lakunya para guru adalah yang pertama-tama diperlukan untuk memberi ciri khas Sekolah Katolik (Sekolah Katolik No. 78).”
Memang di dalam pastoral di Sekolah-sekolah Katolik sangat diharapkan agar para guru dapat menjadi teladan dan panutan di dalam perwujudan imannya. Dan hal ini meliputi unsur-unsur: dedikasi, profesional, berjiwa pelayanan, mengerti dan melaksanakan hak, kewajiban dan tanggungjawabnya, dewasa, seimbang, berwibawa, dsb. seperti Kristus Sang Guru Sejati. Gereja memformulasikan harapannya secara singkat: ”Hendaknya para pengajar unggul dalam ajaran yang benar dan hidup yang jujur (KHK Kanon 803).” Maka, guru-guru di Sekolah Katolik bukanlah sekedar seorang profesional yang secara sistematis memindahkan sekumpulan pengetahuan dalam konteks sekolah. Dalam konteks pastoral sekolah, guru-guru harus dimengerti sebagai seorang pendidik, orang yang membantu membentuk pribadi-pribadi manusia. Di dalam hal inilah perlu dicari dan dikembangkan spiritualitas guru yang tidak hancur dalam menghadapi ”dunia”. Guru adalah salah satu penentu keberhasilan tujuan pastoral sekolah di sekolah Katolik.

0 comments:

Post a Comment