Sunday, February 12, 2012

DEFINISI PASTORAL SEKOLAH HASIL PERTEMUAN DI MALINO

Definisi yang dihasilkan oleh pertemuan Malino - Panitia Waligereja Indonesia Bagian Kateketik (sekarang Komisi Kateketik KWI) di dalam lokakarya di Malino (28 Juni-4 Juli 1981) merumuskan pengertian pastoral sekolah yaitu :

“Segala kegiatan yang ditujukan untuk pengembangan, peningkatan, pembinaan hidup beriman umat Katolik di sekolah.”  
Di dalam definisi tersebut, sekurang-kurang ditemukan 4 (empat) unsur penting yaitu:

a.    Segala kegiatan

    Pastoral sekolah meliputi kegiatan yang beraneka macam, yang ditujukan untuk pengembangan, peningkatan, dan pembinaan hidup beriman umat Katolik di sekolah. Di dalam makalah dari lokakarya di Malino itu disebutkan bermacam-macam kegiatan pastoral sekolah, antara lain: pelajaran agama, katekese, kegiatan liturgi (misa, ibadat), pendalaman iman, rekoleksi, retret, ziarah, kunjungan ke panti asuhan, aksi puasa, rekreasi bersama, kegiatan-kegiatan antar kelompok agama di sekolah (yang bertujuan untuk meningkatkan saling pengertian, penghargaan, kerukunan, semangat kerja-sama), dan lain sebagainya.

     Untuk menilai apakah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di sekolah ini dapat dikatakan pastoral sekolah atau bukan, dapat dipakai pola dasar yang dipergunakan oleh Gereja Purba di dalam mewujudkan pelayanan pastoralnya.

     Menurut pola dasar itu, pastoral dapat dikembalikan kepada 6 (enam) unsur (bdk. P. Van Hooijdonk Pr. Seri Pastoral No.26 Pusat Pastoral Yogyakarta, 1980., hal 16-18)

(1)Liturgia yang berarti merayakan dan memuji kedatangan Allah kepada manusia. Dalam pastoral sekolah, kegembiraan karena mengalami ketenteraman di dalam penggembalaan Tuhan diungkapkan secara perlambangan di dalam bentuk liturgis dan dalam bentuk ibadat. Kegiatan-kegiatan yang dapat dimasukkan di dalam unsur dasar ini misalnya: misa sekolah, ibadat sabda sekolah, ibadat tobat, selebrasi, doa komunita sekolah yang diselenggarakan oleh  sekolah, dan sebagainya.

(2)Kerygma, yang berarti memaklumkan kedatangan Allah yang menyelamatkan. Dalam pastoral sekolah harus terwujud fungsi kenabian atau evangelisasi, yaitu pemakluman Injil kepada mereka yang belum mengenalnya, yang menghasilkan pertobatan pertama bagi para pendengarnya. Tetapi juga pewartaan Injil kepada orang-orang Katolik yang kurang atau tidak aktif, bahkan kepada yang aktif sekalipun, sehingga kerajaan Allah dirasakan pengaruhnya. Adapun kegiatan yang termasuk di dalam unsur dasar ini adalah menceritakan dan menyaksikan Injil, menceritakan imannya kepada mereka yang beragama lain, menghidupi Injil, motivasi dan pengenalan Injil, pertemuan ekumene antar kelompok agama lain, dan sebagainya.

(3) Katekese, yaitu pengembangan iman melalui pelayanan sabda, sehingga pengajar maupun murid bersama-sama mengalami sejarah hidupnya di dalam terang sejarah keselamatan Allah, dan di dalam terang pengajaran Gereja Katolik. Kegiatan-kegiatan yang termasuk di dalamnya misalnya: pelajaran agama, pendalaman iman, inisiasi calon baptis, pelajaran agama untuk calon komuni pertama, dan sebagainya.

(4) Martyria yaitu kegiatan member kesaksian iman Katolik, baik melaluikata, perbuatan atau gaya hidup yang memperlihatkan atau member kesaksian tentang hidup Katolik. Mis memperlihatkan cirri Katoliknya di setiap ruang kelas (ada salib, gambar kudus) di samping gambar lain yang diharuskan oleh Negara.

(5)Koinonia, yaitu mengumpulkan umat Allah menjadi satu persaudaraan. Misalnya: sharing iman, rekreasi bersama untuk pembinaan rohani, camping rohani, saresehan, Community Organization, saling kunjungan dan sebagainya.

(6)Diakonia atau pelayanan, yang terwujud di dalam kegiatan pelayanan orang miskin, kunjungan ke panti asuhan, aksi puasa, aksi natal, aksi sosial, pelayanan masyarakat dan sebaginya.

Jika kegiatan yang dilaksanakan di sekolah termasuk dalam salah satu atau beberapa unsur dasar tersebut, kegiatan itu dapat disebut sebagai kegiatan pastoral sekolah.

Tentu saja pembagian kegiatan ke dalam unsur dasar tersebut tidak boleh dimutlakkan, karena untuk masuk dalam suatu unsur dasar tertentu, yang paling menentukan adalah tujuan dari kegiatan itu.

Di dalam kenyataan, justru unsur dasar itu biasanya tidak disebut, akan tetapi langsung disebut kegiatannya. Misalnya, di dalam pembicaraan dengan kepala-kepala sekolah Katolik di dalam suatu hari studi di keuskupan Malang dan beberapa dari Surabaya khususnya untuk Sekolah Dasar, disebutkan 10 (sepuluh) kegiatan pastoral yang pada umunya dijalankan di SD Katolik:

–   Pelajaran agama, sebanyak 2-3 jam per minggu.

– Pelajaran agama untuk katekumen dan untuk persiapan komuni pertama.

–   Misa kudus, satu atau dua kali sebulan.

–   Perayaan Paskah dan Natal.

–   Penerimaan sakramen tobat.

–   Putra/i Maria (Legio Mariae untuk anak-anak)

–   Aksi Remaja.

–   Camping rohani.

–   Putra Altar.

–   Kunjungan ke orang tua anak

b.   Yang ditujukan untuk pengembangan, peningkatan dan pembinaan hidup beriman:

      

Unsur kedua ini dapat diperinci lagi menjadi 3 (tiga) sub unsur, yaitu:

(1)         Pengembangan hidup beriman.

Ini dapat diartikan dengan membimbing perkembangan iman. Yang meletakkan dasar potensiil iman adalah Tuhan sendiri. Untuk pengembangan iman itu Tuhan bekerjasama dengan manusia, dengan bantuan atau pertolongan usaha-usaha katekis. Iman yang mulai bertumbuh oleh rahmat Tuhan dan dikonkretkan oleh usaha katekis atau petugas pastoral sekolah itu, diperkembangkan lebih lanjut di dalam pastoral sekolah. Pastoral sekolah bertujuan untuk mengembangkan dan mendewasakan iman umat Katolik di sekolah, sehingga iman itu dapat diwujudkan dalam situasi konkret dewasa ini.

(2)     Peningkatan hidup beriman.

Ini dapat diartikan meningkatkan mutu dan isi hidup beriman sehingga sampai ke penghayatan iman dan pengalaman sapaan cinta kasih Allah dalam hidupnya yang konkret melalui pastoral sekolah. Umat Katolik di sekolah memerlukan pendalaman iman supaya mencapai kedewasaan iman. Hal ini penting karena sesuai dengan taraf perkembangan mereka yang sedang ada di dalam fase-fase pendewasaan.

(3)         Pembinaan hidup beriman.

Melalui pastoral sekolah secara bertahap diusahakan terjadinya peresapan hidup beriman ke dalam proses dinamika perkembangan umat Katolik di sekolah. Sambil terus menerus mengembangkan keyakinan dasarnya sebagai orang Katolik, pembinaan pastoral di sekolah menciptakan iklim yang memungkinkan peserta dengan bantuan rahmat Allah bangkit imannya, mengkaji alasan-alasan mengapa beriman Katolik, mengalami dan mengungkapkan imannya dan mengintergrasikan diri ke dalam komunita Gereja, dengan memberi kesaksian apostolik serta melaksanakan tugas-tugas dalam masyarakatnya.

Dari unsur ke dua ini, kelihatan bahwa definisi tersebut di atas masih bersifat umum, dengan menunjukkan tujuan umum yang mau dicapai oleh pastoral sekolah. Tetapi, pastoral sekolah sebagai usaha perwujudan iman sehingga kelompok umat Katolik di sekolah mampu mengungkapkan serta memberi kesaksian dan mengamalkan iman akan Kristus di dalam situasi konkret hidupnya belum nampak dengan jelas di dalamnya. Melainkan nampak secara implisit di dalam kata pembinaan hidup beriman.

c.    Umat Katolik


Umat Katolik di sekolah adalah subyek pastoral sekolah. Mereka bukan obyek. Obyeknya adalah usaha atau kegiatan yang memungkinkan umat Katolik di sekolah menjalankan tugas-tugas pastoral. Adapun yang dimaksudkan dengan umat Katolik di sekolah adalah :

Anak-anak (SD), remaja (SLTP) dan muda-mudi (SM dan PT) khususnya yang beragama Katolik. Tetapi juga guru agama Katolik, dan petugas-petugas penyelenggara sekolah yang beragama Katolik yang ada di dalam sekolah. Tentu saja tidak boleh dilupakan peranan orang tua wali murid Katolik. Dengan Katolik di sini dimaksudkan juga para simpatisan dan katekumen.

d.   Di sekolah


Unsur ini menunjukkan bahwa pastoral sekolah itu dilaksanakan di sekolah. Dalam pembicaraan ini dimaksudkan SEKOLAH KATOLIK. Akan tetapi juga berarti bahwa yang bertanggung jawab atas penyelenggaraannya adalah sekolah di dalam kerjasama dengan Gereja (hierarki).

Sekolah, khususnya yang Katolik diharapkan menetapkan kebijakan-kebijakan yang mendukung terlaksananya pastoral sekolah, hal mana merupakan tugas dan tanggung-jawabnya. Pengembangan pastoral di sekolah tidak bertentangan dengan tugas sekolah, melainkan justru sesuai dengan identitas khas sekolah Katolik. (bdk. Kesepakatan MPK Surabaya dan Malang tentang kebijakan mengenai pendidikan agama di sekolah, Surabaya 21 Desember 1998).

Sebelum itu, baca juga artikel terkait kami:

1. Sekilas Sejarah Sekolah Katolik di Indonesia 

2. Tujuan Pastoral Gereja Katolik ROma 

3. Kebutuhan Pastoral Katolik di Sekolah

4. Lainnya di sini 

Demikianlah artikel tentang Definisi yang dihasilkan oleh pertemuan Malino ini, semoga bermanfaat.

0 comments:

Post a Comment