Tuesday, February 7, 2012

CIRI RANAH PENILAIAN AFEKTIF (AFFECTIVE DOMAIN) | DEFINISI


Ciri-ciri Ranah Penilaian Afektif - Pemikiran atau perilaku harus memiliki dua kriteria untuk diklasifikasikan sebagai ranah afektif (Andersen, 1981:4). Pertama, perilaku melibatkan perasaan dan emosi seseorang. Kedua, perilaku harus tipikal perilaku seseorang. Kriteria lain yang termasuk ranah afektif adalah intensitas, arah, dan target. Intensitas menyatakan derajat atau kekuatan dari perasaan. Beberapa perasaan lebih kuat dari yang lain, misalnya cinta lebih kuat dari senang atau suka. Sebagian orang kemungkinan memiliki perasaan yang lebih kuat dibanding yang lain. Arah perasaan berkaitan dengan orientasi positif atau negatif dari perasaan yang menunjukkan apakah perasaan itu baik atau buruk.

Misalnya senang pada pelajaran dimaknai positif, sedang kecemasan dimaknai negatif. Bila intensitas dan arah perasaan ditinjau bersama-sama, maka karakteristik afektif berada dalam suatu skala yang kontinum. Target mengacu pada objek, aktivitas, atau ide sebagai arah dari perasaan. Bila kecemasan merupakan karakteristik afektif yang ditinjau, ada beberapa kemungkinan target. Peserta didik mungkin bereaksi terhadap sekolah, matematika, situasi sosial, atau pembelajaran. Tiap unsur ini bisa merupakan target dari kecemasan. Kadang-kadang target ini diketahui oleh seseorang namun kadang-kadang tidak diketahui. Seringkali peserta didik merasa cemas bila menghadapi tes di kelas. Peserta didik tersebut cenderung sadar bahwa target kecemasannya adalah tes.

Ada 5 tipe karakteristik afektif yang penting berdasarkan tujuannya, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral.




1. Sikap

    Sikap merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima informasi verbal. Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran, tujuan yang ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu. Penilaian sikap adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, kondisi pembelajaran, pendidik, dan sebagainya.

    Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep, atau orang. Sikap peserta didik terhadap objek misalnya sikap terhadap sekolah atau terhadap mata pelajaran. Sikap peserta didik ini penting untuk ditingkatkan (Popham, 1999). Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, misalnya bahasa Inggris, harus lebih positif setelah peserta didik mengikuti pembelajaran bahasa Inggris dibanding sebelum mengikuti pembelajaran. Perubahan ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran. Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran termasuk pengalaman belajar peserta didik yang membuat sikap peserta didik terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif.




    2. Minat

      Menurut Getzel (1966), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia (1990: 583), minat atau keinginan adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Hal penting pada minat adalah intensitasnya. Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi.

      Penilaian minat dapat digunakan untuk:
      • mengetahui minat peserta didik sehingga mudah untuk pengarahan dalam pembelajaran,
      • mengetahui bakat dan minat peserta didik yang sebenarnya,
      • pertimbangan penjurusan dan pelayanan individual peserta didik,
      • menggambarkan keadaan langsung di lapangan/kelas,
      Mengelompokkan didik yang memiliki peserta minat sama, f. acuan dalam menilai kemampuan peserta didik secara keseluruhan dan memilih metode yang tepat dalam penyampaian materi,
      • mengetahui tingkat minat peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan pendidik,
      • bahan pertimbangan menentukan program sekolah,
      • meningkatkan motivasi belajar peserta didik.


      3. Konsep Diri

        Menurut Smith, konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Target, arah, dan intensitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah afektif yang lain. Target konsep diri biasanya orang tetapi bisa juga institusi seperti sekolah. Arah konsep diri bisa positif atau negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum, yaitu mulai dari rendah sampai tinggi.

        Konsep diri ini penting untuk menentukan jenjang karir peserta didik, yaitu dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dapat dipilih alternatif karir yang tepat bagi peserta didik. Selain itu informasi konsep diri penting bagi sekolah untuk memberikan motivasi belajar peserta didik dengan tepat.

        Penilaian konsep diri dapat dilakukan dengan penilaian diri. Kelebihan dari penilaian diri adalah sebagai berikut:
        • Pendidik mampu mengenal kelebihan dan kekurangan peserta didik.
        • Peserta didik mampu merefleksikan kompetensi yang sudah dicapai.
        • Pernyataan yang dibuat sesuai dengan keinginan penanya.
          • Memberikan motivasi diri dalam hal penilaian kegiatan peserta didik.
          • Peserta didik lebih aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
          • Dapat digunakan untuk acuan menyusun bahan ajar dan mengetahui standar input peserta didik.
          • Peserta didik dapat mengukur kemampuan untuk mengikuti pembelajaran.
          • Peserta didik dapat mengetahui ketuntasan belajarnya.
          • Melatih kejujuran dan kemandirian peserta didik.
          • Peserta didik mengetahui bagian yang harus diperbaiki.
          • Peserta didik memahami kemampuan dirinya.
          • Pendidik memperoleh masukan objektif tentang daya serap peserta didik.
          • Mempermudah pendidik untuk melaksanakan remedial, hasilnya dapat untuk instropeksi pembelajaran yang dilakukan.
          • Peserta didik belajar terbuka dengan orang lain.
          • Peserta didik mampu menilai dirinya.
          • Peserta didik dapat mencari materi sendiri.
          • Peserta didik dapat berkomunikasi dengan temannya.
        4. Nilai
          Nilai menurut Rokeach (1968) merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan, atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk. Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada keyakinan.
          Target nilai cenderung menjadi ide, target nilai dapat juga berupa sesuatu seperti sikap dan perilaku. Arah nilai dapat positif dan dapat negatif. Selanjutnya intensitas nilai dapat dikatakan tinggi atau rendah tergantung pada situasi dan nilai yang diacu.
          Definisi lain tentang nilai disampaikan oleh Tyler (1973:7), yaitu nilai adalah suatu objek, aktivitas, atau ide yang dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan minat, sikap, dan kepuasan. Selanjutnya dijelaskan bahwa manusia belajar menilai suatu objek, aktivitas, dan ide sehingga objek ini menjadi pengatur penting minat, sikap, dan kepuasan. Oleh karenanya satuan pendidikan harus membantu peserta didik menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna dan signifikan bagi peserta didik untuk memperoleh kebahagiaan personal dan memberi konstribusi positif terhadap masyarakat.



          5. Moral

            Piaget dan Kohlberg banyak membahas tentang per-kembangan moral anak. Namun Kohlberg mengabaikan masalah hubungan antara judgement moral dan tindakan moral. Ia hanya mempelajari prinsip moral seseorang melalui penafsiran respon verbal terhadap dilema hipotetikal atau dugaan, bukan pada bagaimana sesungguhnya seseorang bertindak.
            Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu orang lain, membohongi orang lain, atau melukai orang lain baik fisik maupun psikis. Moral juga sering dikaitkan dengan keyakinan agama seseorang, yaitu keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan berpahala. Jadi moral berkaitan dengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang.
            Ranah afektif lain yang penting adalah:
            • Kejujuran: peserta didik harus belajar menghargai kejujuran dalam berinteraksi dengan orang lain.
            • Integritas: peserta didik harus mengikatkan diri pada kode nilai, misalnya moral dan artistik.
            • Adil: peserta didik harus berpendapat bahwa semua orang mendapat perlakuan yang sama dalam memperoleh pendidikan.
            • Kebebasan: peserta didik harus yakin bahwa negara yang demokratis memberi kebebasan yang bertanggung jawab secara maksimal kepada semua orang.
              
            Tabel  Kaitan antara kegiatan pembelajaran dengan domain tingkatan aspek Afektif
            Tingkat
            Contoh kegiatan pembelajaran
            Penerimaan (Receiving)
            Arti : Kepekaan (keinginan menerima/memperhatikan) terhadap fenomena/stimult menunjukkan perhatian terkontrol dan terseleksi
            Contoh kegiatan belajar :
            -sering mendengarkan musik
            - senang membaca puisi
            - senang mengerjakan soal matematik
            - ingin menonton sesuatu
            - senang menyanyikan lagu
            Responsi (Responding)
            Arti : menunjukkan perhatian aktif melakukan sesuatu dengan/tentang fenomena setuju, ingin, puas meresponsi (mendengar)
            Contoh kegiatan belajar :

            1. mentaati aturan
            2. mengerjakan tugas
            3. mengungkapkan perasaan
            4. menanggapi pendapat
            5. meminta maaf atas kesalahan
            6. mendamaikan orang yang bertengkar
            7. menunjukkan empati
            8. menulis puisi
            9. melakukan renungan
            10. melakukan introspeksi
            Acuan Nilai
            ( Valuing)
            Arti : Menunjukkan konsistensi perilaku yang mengandung nilai, termotivasi berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang pasti
            Tingkatan : menerima, lebih menyukai, dan menunjukkan komitmen terhadap suatu nilai
            Contoh Kegiatan Belajar :
            • mengapresiasi seni
            • menghargai peran
            • menunjukkan perhatian
            • menunjukkan alasan
            • mengoleksi kaset lagu, novel, atau barang antik
            • menunjukkan simpati kepada korban pelanggaran HAM
            • menjelaskan alasan senang membaca novel

            Organisasi
            Arti : mengorganisasi nilai-nilai yang relevan ke dalam suatu sistem menentukan saling hubungan antar nilai memantapkan suatu nilai yang dominan dan diterima di mana-mana memantapkan suatu nilaimyang dominan dan diterima di mana-mana
            Tingkatan : konseptualisasi suatu nilai, organisasi suatu sistem nilai
            Contoh kegiatan belajar :
            • rajin, tepat waktu
            • berdisiplin diri  mandiri dalam bekerja secara independen
            • objektif dalam memecahkan masalah
            • mempertahankan pola hidup sehat
            • menilai masih pada fasilitas umum dan mengajukan saran perbaikan
            • menyarankan pemecahan masalah HAM
            • menilai kebiasaan konsumsi
            • mendiskusikan cara-cara menyelesaikan konflik antar- teman
            Baca juga:

            0 comments:

            Post a Comment