Monday, January 30, 2012

PANDANGAN KONSTRUKTIVISME DALAM PEMBELAJARAN



PANDANGAN  KONSTRUKTIVISME  DALAM  PEMBELAJARAN - Konstruktivisme merupakan paradigma alternative yang muncul sebagai dampak dari revolusi ilmiah yang terjadi dalam beberapa dasawarsa terakhir (Kuhn,1970). Seiring dengan hal tersebut, kemudian konstruktivisme menjadi kata kunci  dalam hampir setiap pembicaraan mengenai pembelajaran di berbagai kalangan. Konstruktivisme ini yang menjadi landasan terhadap berbagai seruan dan kecendrungan yang muncul dalam dunia pembelajaran.

Pembelajaran menjadi landasan philosofis yang melandasi pola pikir dalam perancangan pembelajaran di sekolah-sekolah. Pandangan  konstruktivisme melahirkan pembelajaran yang memegang prinsip-prinsip aktif,kreatif,inofatif,  dan menyenangkan. Prinsip-prinsip ini dapat menciptakan suasana belajar yang mendukung proses konstruksi pemahaman terhadap pengetahuan secara bermakna.

Apa sesungguhnya konstruktivisme? Bagaimana konstruktivisme berpengaruh dalam pembelajaran? Bagaiamana penerapan prinsip-prinsip pembelajaran aktif,inovatif,kreatif,efektif dan menyenangkan dalam pembelajaran?Bagaimana model-model pembelajaran yang bercirikan “PAIKEM”?

Pembahasannya difokuskan pada apa,mengapa,bagaimana konstruktivisme dalam pembelajaran. Dengan demikian diharapkan untuk dapat memahami dan menerapkan model-model pembelajaran “PAIKEM” dalam pembelajaran.

Batasan konstruktivisme

Konstruktivisme merupakan salah satu aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil dari konstruksi (bentukan) kita sendiri (Von Glaserfeld dalam Bettencourt,1989 dan Matthews,1994). Pengetahuan bukanlah suatu imitasi dari kenyataan (realitas). Pengetahuan bukanlah gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan selalu merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif dari kenyataan yang terjadi melalui serangkaian aktivitas seseorang. Siswa membentuk skema,kategori konsep dan struktur pengetahuan yang diperlukan untuk pengetahuan (Bottencourt,1989). Pengetahuan bukanlah tentang hal-hal yang terlepas dari pengamat,tetapi merupakan ciptaan manusia yang dikonstruksikan dari pengalaman atau dunia sejauh yang dialaminya. Proses pembentukan ini berjalan terus menerus setiap kali terjadi reorganisasi/rekonstruksi karena adanya suatu pemahaman yang baru. (Piaget,1971).

Alat/sarana yang tersedia bagi seseorang untuk mengetahui sesuatu adalah indranya. Seseorang berinteraksi dengan objek dan lingkungan  dengan cara melihat,mendengar,menjamah,mencium,dan merasakannya. Dari sentuhan indrawi itu,seseorang mengkonstruksi gambaran dunianya. Menurut konstruktivisme, pengetahuan ada dalam diri seseorang yang sedang mengetahui. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seseorang  (guru) ke kepala orang lain (siswa). Siswa sendirilah yang harus mengartikan apa yang telah diajarkan dengan menyesuaikan terhadap pengalaman-pengalaman mereka atau konstruksi yang telah mereka bangun/miliki sebelumnya (Lorbach dan Tobin,1992).

Pengetahuan merujuk pada pengalaman seseorang akan dunia, tetapi bukan dunia itu sendiri. Tanpa pengalaman,seseorang tidak dapat membentuk pengetahuan. Pengalaman tidak hanya diartikan sebagai pengalaman fisik,tetapi juga pengalaman kognitif dan mental.  Pengetahuan dibentuk oleh struktur penerimaan konsep seseorang sewaktu dia berinteraksi dengan lingkungannya (Vonglaserfeld,1989). Lingkungan merujuk pada semua objek  dan proposisinya yang kita abstraksikan dari pengalaman dalam diri kita sendiri. Lingkungan juga merujuk pada hal-hal yang berada di sekeliling fokus kita. Lingkungan, baik yang ada dalam diri kita sendiri maupaun hal-hal disekeliling merupakan lingkup dari pengalaman kita masing-masing,bukan dunia obyektif yang lepas dari pengamat (Von Glaserfeld,1996).

Abstraksi seseorang terhadap suatu hal membentuk struktur konsep dan menjadi pengetahuan seseorang akan hal tersebut. Misalnya,abstraksi seseorang akan ciri-ciri harimau dibandingkan dengan kucing akan menjadi pengetahuan orang tersebut  tentang harimau dan kucing. Abstraksi tersebut menjadi konsep yang dapat digunakan dalam menganalisis hewan-hewan lain yang dijumpainya dan dalam membedakan antara kucing dan harimau.

Menurut konstruktivisme, pengetahuan bukanlah hal yang statis dan deterministik,tetapi suatu proses menjadi tahu. Misalnya,pengetahuan kita akan kucing tidak sekali jadi,tetapi merupakan proses untuk semakin tahu. Pada waktu kecil kita melihat kucing,menjamah dan bermain dengan kucing di rumah. Melalui pengalaman tersebut kita mengkonstruksi pengertian kita tentang kucing, sejauh yang dapat kita tangkap dari pengalaman. Selanjutnya kita memperoleh kesempatan untuk bertemu dengan kucing-kucing lain. Interaksi dengan macam-macam kucing ini menjadikan pengetahuan kita tentang kucing lebih lengkap dan rinci. Begitulah yang terjadi terus menerus. Konstruktivisme juga mengatakan bahwa semua pengetahuan yang kita peroleh adalah hasil konstruksi kita sendiri,maka sangat kecil kemungkinan adanya transfer pengetahuan dari seseorang kepada yang lain. Setiap orang membangun pengetahuannya sendiri,sehingga transfer pengetahuan (seperti menumpahklan air ke ember kosong ) adalah sangatlah mustahil terjadi (Von Glaserfeld). Pengetahuan b ukanlah suatu barang yang dapat ditransfer dari orang yang mempunyai pengetahuan kepada orang yang belum mempunyai pengetahuan. Bahkan,bila seorang guru bermaksud mentransferkan konsep,ide,dan pengertiannya kepada siswa,pemindahan itu harus diinterpretasikan,ditransformasikan,dan dikonstruksikan oleh siswa lewat pengalamannya (Von Glaserfeld dalam Bottencourt 1989). Banyaknya siswa yang salah menangkap apa yang diajarkan oleh guru (misconception)   menunjukkan bahwa pengetahuan kita tidak dapat begitu saja  dipindahkan melainkan harus dikonstruksikan atau paling sedikit diinterpretasikan dan ditransformasikan  sendiri oleh siswa.

Menurut Von Glaserfeld (1989) agar siswa mampu mengkonstruksi pengetahuan maka diperlukan:

1. Kemampuan siswa untuk mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman. Kemampuan untuk mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman sangat penting karena pengetahuan dibentuk berdasarkan interaksi individu siswa dengan pengalaman-pengalaman tersebut.
2. Kemampuan siswa untuk membandingkan,dan mengambil keputusan mengenai persamaan dan perbedaan suatu hal. Kemampuan membandingkan sangat penting agar siswa mampu menarik sifat yang lebih umum (merapatkan) dari pengalaman-pengalaman khusus serta melihat kesamaan dan perbedaannya untuk selanjutnya membuat klasifikasi dan mengkonstruksi pengetahuannya.
3.     Kemampuan siswa untuk lebih menyukai pengalaman yang satu dari pada yang lain (selective conscience) melalui “suka dan tidak suka” inilah muncul penilaian siswa terhadap pengalaman,dan menjadi landasan bagi pembentukan pengetahuannya.

Menurut Piaget (1970)  Ada dua aspek berpikir dalam proses pembentukan pengetahuan,yaitu aspek figurative dan aspek operatif. Aspek berpikir figurative merupakan imaginasi keadaan sesaat dan statis,yang mencakup persepsi,imaginasi, dan gambaran mental seseorang terhadap sesuatu objek atau fenomena. Aspek berpikir operatif lebih berkitan dengan transformasi dari satu tahap ke tahap lain, yang menyangkut operasi intelektual /sistem transformasi. Setiap tahap keadaan dapat dimengerti sebagai akibat dari transformasi tertentu,atau sebagai titik tolak bagi transformasi lain. Dengan demikian aspek yang paling esensial dari berpikir adalah aspek operatif. Berpikir operatif inilah yang memungkinkan seseorang untuk mengembangkan pengetahuannya dari satu tahap ke tahap yang lebih tinggi (Subarno,1997).

Secara ringkas, gagasan konstruktivisme mengenai pengetahuan adalah sebagai berikut:

Ø Pengetahuan bukan merupakan gambaran dunia kenyataan belaka,tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melaui kegiatan siswa (mine as inner individual representation of outer reality)
Ø Siswa mengkonstruksi skema,kognitif,kategori,konsep,dan struktur dalam membangun pengetahuan,sehingga setiap individu siswa memiliki skema kognitif,kategori,konsep dan struktur yang berbeda. Dalam hal ini,proses abstraksi dan refleksi seseorang menjadi sangat berpengaruh dalam konstruksi pengetahuan (reflection/abstraction as primary).
Ø Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsep masing-masing individual siswa. Struktur konsep dapat membentuk pengetahuan bila konsep baru yang diterima dapat dikaitkan/dihubungkan (proposisi) dengan pengalaman yang dimiliki siswa . Dengan demikian,pengetahuan adalah apa yang ada dalam pikiran setiap siswa.
Ø Dalam proses pembentukan pengetahuan,kebermaknaan merupakan interpretasi individu siswa terhadap pengalaman yang dialaminya (meaning as internality constructed). Perampatan makna merupakan proses  negosiasi antara individu siswa dengan pengalamannya melalui interaksi dalam proses belajar ( menjadi tahu) (learning as negotiated construction of meaning)

Konstruktivisme menyatakan bahwa seseorang tidak pernah dapat mengerti kenyataan yang sesungguhnya,yang dimengerti adalah struktur konstruksi seseorang akan suatu objek. Menurut Bottencourt (1989),konstruktivisme  tidak bertujuan untuk mengerti kenyataan,tetapi lebih menggambarkan proses kita menjadi tahu akan sesuatu. Realitas bagi konstruktivisme tidak pernah ada secara terpisah dari pengamat,yang ada bukan suatu realitas yang berdiri sendiri,melainkan kenyataan sejauh yang dipahami oleh orang yang mengalaminya (Shapiro,1994). Menurut Shapiro,ada banyak bentuk kenyataan dan masing-masing tergantung pada kerangka dan interaksi pengamat dengan objek yang diamati.

Bagi kaum konstruktivisme, kebenaran terletak pada viabilitas (viability),yaitu kemampuan oprasi suatu konsep atau pengetahuan dalam praktek. Artinya pengetahuan yang dikonstruksikan dapat digunakan dalam menghadapi macam-macam fenomena dan persoalan yang berkaitan dengan pengetahuan tersebut. Pengetahuan bukan barang mati yang sekali jadi,melainkan suatu proses yang terus berkembang.

Menurut Bottencourt (1989),ada beberapa hal yang dapat membatasi proses konstruksi pengetahuan manusia, antara lain:

*    Hasil konstruksi yang telah dimiliki seseorang (constructed knowledge). Hasil dan proses konstruksi pengetahuan yang lampau dapat menjadi pembatas konstruksi pengetahuan kita yang baru. KOnsep-konsep yang diabstraksikan dari pengalaman yang lampau,cara mengabstraksikan dan mengorganisasikan konsep-konsep serta aturan main yang digunakan untuk mengerti sesuatu,berpengaruh terhadap pembentukan pengetahuan berikutnya. Pengalaman yang sudah diabstraksikan,yang telah menjadi suatu konsep dan telah dikonstruksikan menjadi pengetahuan dalam banyak hal membatasi pengertian seseorang tentang hal-hal yang berkaitan dengan konsep tersebut.
*    Domain pengalaman seseorang (domain of experience). Menurut konstruktivisme,pengalaman akan fenomena baru merupakan unsur penting dalam pengembangan pengetahuan,dan kekurangan dalam hal ini akan membatasi pengetahuan.  Dalam bidang ilmu fisika,biologi,kimia,geologi atau astronomi,misalnya pengalaman ataupun percobaan-percobaan sangat berperan  dalam perkembangan hukum,teori maupun konsep-konsep ilmu tersebut. Dalam bidang agama juga dengan pengalaman berinteraksi dengan peserta didik dan lingkungan akan semakin memperdalam pengetahuan yang dimiliki.
*    Jaringan struktur kognitif seseorang (exiting cognitive structure). Struktur kognitif merupakan suatu system yang saling berkaitan. Konsep, gagasan,gambaran, teori dan sebagainya yang membentuk struktur kognitif saling berhubungan satu dengan yang lain. Inilah yang oleh Toulmin (1972) disebut ekologi konseptual. Setiap pengetahuan yang baru harus juga cocok dengan ekologi konseptual tersebut karena manusia cenderung untuk menjaga stabilitas ekologi  system tersebut.

0 comments:

Post a Comment