Friday, January 20, 2012

Habitat dan Reproduksi Ikan Nila Gift (Oreochromis Niloticus Bleeker)


Habitat Ikan Nila Gift (Oreochromis Niloticus Bleeker)



Saat ini ada dua jenis ikan nila yang beredar di Indonesia, yaitu nila hitam, dan nila merah. Ikan nila banyak di temukan di perairan yang airnya tenang, seperti danau, rawa, dan waduk. Toleransi terhadap lingkungan sangat tinggi. Nila termasuk ikan omnivora dan sangat menyenangi pakan alami berupa Rotifera, Dapnia sp, Moina sp, Benthos, Ferifiton, dan Fitoplankton. Disamping itu, bisa juga di beri pakan tambahan, seperti pellet, dedak, dan lain-lain. Nila termasuk ikan yang dapat memijah sepanjang tahun dan mulai memijah pada umur 6 s/d 8 bulan (Sugiarto, 1988).
Produksi ikan nila gift pada tahap pemeliharaan induk disusun sebagai upaya meningkatkan jaminan mutu (quality assurance), terhadap benih yang dihasilkan mengingat produk ini banyak diperdagangkan dan proses produksinya mempunyai pengaruh terhadap mutu ikan konsumsi yang dihasilkan (Effendi, 2004).
Pengkajian teknologi budidaya ikan nila gift dalam mendukung intensifikasi pembudidayaan diarahkan untuk meningkatkan efisiensi produksi, dalam rangka meningkatkan daya saing harga. Beberapa upaya yang berkaitan dengan pengkajian teknologi antara lain pengkajian teknik pemeliharaan induk, yang meliputi: kontruksi kolam pemeliharaan, perawatan,teknik penanganan pascapanen, serta teknik pengelolaan induk dalam proses pemijahan (jumlah induk minimal yang dipijahkan dalam rangka menghambat laju silang dalam), teknik produksi benih tunggal kelamin jantan dan benih steril (melalui hormonisasi, YY-Male, dan tetraploidisasi (Malik, 1998).

Reproduksi Ikan Nila Gift (Oreochromis Niloticus Bleeker)

Nila merah bersifat beranak pinak dan cepat pertumbuhannya. Selain itu, ikan ini memiliki toleransi tinggi terhadap perubahan kadar garam sampai 3o promil. Kedewasaan pertama tercapai pada umur 4-6 bulan dengan bobot 100-250 g. Jenis ikan ini dapat memijah 6-7 kali/tahun.
Seekor induk betina dapat menghasilkan telur sebanyak 1000 - 1500 butir. Saat pemijahan ikan jantan akan membuat sarang dan menjaganya. Telur yang telah dibuahi dierami oleh induk betina di dalam mulutnya. Penjagaan oleh betina masih terus dilanjutkan sampai seminggu setelah telur-telur tersebut menetas.
Di dalam karamba jaring apung ikan ini dapat mencapai ukuran di atas 250 g dalam waktu 4 bulan dari bobot awal sekitar 20 g. lkan jantan tumbuh lebih cepat dan lebih besar dibanding betinanya. Proses pemijahan dimulai dengan pembuatan sarang oleh ikan jantan berupa lekukan berbentuk bulat dengan diameter sebanding seukuran tubuhnya di dasar perairan dalam daerah teritorial (Suyanto, 1988).
Ikan betina yang siap memijah akan mengeluarkan telur di lubang yang telah dipersiapkan oleh jantan dan telur-telur tersebut akan dibuahi oleh ikan jantan. Setelah telur dibuahi, telur tersebut akan dikumpulkan oleh ikan betina dan dierami di dalam mulut sampai menetas. Lama pengeraman di dalam mulut berkisar antara 1 – 2 minggu tergantung suhu air tempat dilakukannya pemijahan. Setelah larva dilepas oleh induk betina, larva-larva tersebut akan kembali ke dalam mulut induk betina apabila ada bahaya yang mengancam. Kondisi air yang tenang akan menguntungkan bagi pertumbuhan dan pemijahan ikan nila merah. dalam upaya memperoleh tingkat pemijahan yang optimum, ikan nila merah bersifat poligami,  maka nisbah kelamin dianjurkan 1 jantan untuk 2 betina pada  luasan kolam 10 m2 (Anonimous, 1991).
Secara teoritis, ikan nila gift dapat dipijahkan secara lami, semi buatan dan buatan. Pemijahan secara alami adalah pemijahan secara alamiah dalam wadah/tempat pemijahan tanpa dilakukan pemberian rangsangan hormonal. Pemijahan semi buatan adalah pemijahan dengan proses rangsangan hormobnal akan tetapi proses ovolasinya terjadi secara alamiah dalam wadah/tempat pemiajahan. Pemiajahan buatan terjadi dengan pemberian rangsangan hormonal dan proses ovulasi dan pembuahannya dilakukan secara buatan. Pemijahan ikan nila untuk tujuan produksi sebaiknya dilakukan secara alami dan semi buatan, hal ini dikarenakan secara biologi pemijahan dan penetasan telur ikan nila lebih memungkinkan dilakukan secara alamiah (Djarija, 1994).
Pada pemijahan secara alamiah, pemijahan dilakukan dengan cara memasangkan induk jantan dengan betina dengan perbandingan 1:3, kepadatan induk adalah 1-2 ekor induk betina per meter persegi dengan kedalam kolam sekitar 50cm. Untuk merangsang terjadinya pemijahan sebaiknya dilakuakn manipulasi lingkungan yaitu dengan cara pengeringan kolam, pengaliran air baru ke dalam kolam dan pemberian lumpur berpasir pada dasar kolam yang digunakan agar induk mudah dalam membuat sarang. Ciri telah terjadi pemijahan adalah terbentuknya lekukan-lekukan berbentuk bulat didasar kolam dengan diameter 30-50 cm. Lamanya pemijahan sampai benih lepas dari perawatan induk adalah sekitar 14 hari (Djarija, 1994).

0 comments:

Post a Comment