Friday, December 16, 2011

Teori Herbartisme dan Pengertian Herbatisme


Herbartisme adalah suatu teori pembelajaran yang dikemukakan oleh Frederich Herbart yang menganut paham naturalis. Pandangan Herbart adalah sebagai berikut:

1. Teori tahap-tahap perkembangan budaya yang menyatakan bahwa ras manusia berkembang melalui tahap perkembangan budaya tertentu, dan tahap-tahap tersebut akan di ulangi dalam perkembangan individu.

2. Seorang manusia yang baik memerintahkan dirinya sendiri, sifat dasar manusia terdiri dari dua factor, yaitu diri yang memerintah dan diri yang menolak. Mendidik orang muda agar dapat berbuat baik, bebas, dan mantap, terwujud apabila sifat dasarnya mau melakukan perbuatan tersebut.

3. Jika dibekali satu perbuatan khusus untuk mereaksi terhadap hal-hal yang ada terhadap lingkungannya.



Herbartisme disebut juga teori Herbartian atau Apperception. Tiga tahap pembelajaran menurut pandangan apperception:

• penerimaan rangsangan,
• ingatan - menghasilkan kembali apa yang diketahui,
• pemahaman - hasil pemikiran konsep dan generalisasi

Johan Friedrich Herbart (1776-1841) mengembangkan psikologi belajar modern yang sistematis, yang lahir dari suatu teori tabula rasa tentang jiwa atau pikiran (mind). Herbart adalah seorang psikolog yang juga filsuf, dan juga seorang guru yang ahli, berasal dari Jerman. Pemikirannya yang mengagumkan dikembangkannya pada masalah-masalah pendidikan. Katanya, moralitas adalah inti objektivitas pendidikan. Ia ingin membuat anak-anak menjadi baik. Dari sanalah ia mengembangkan psikologi guna mencapai maksudnya. Pada permulaan tahun-tahun abad ke-20, saat teori Herbartianisme mendominasi pendidikan (terutama di Amerika Serikat), behaviorisme muncul dan menentangnya. Dengan demikian, jika orang ingin memahami atmosfir psikologi pada sekolah-sekolah sekarang, maka orang perlu mengetahui dan mengerti perkembangan, prinsip, dan implikasi teori apersepsi. Herbart mengekalkan dualisme jiwa-badan yang umum pada saat itu. Hal ini merupakan kesejajaran psikofisik, di mana aspek psikis-jiwa, pikiran, memainkan peranan besar, terutama dalam proses belajar. Kesejajaran (parallelism) adalah teori jiwa dan badan menurut setiap variasi di dalam proses kesadaran mental, ada keseiringan (concomitant) proses badan atau neurologis. Namun tidak ada kausalitas hubungan antara jiwa dan badan, pikiran seseorang tidak mempengaruhi badannya; juga badan seseorang tidak mempengaruhi jiwanya. Ini menurut konsep dari teori ini. Dengan menggunakan konsep presentasi, apersepsi keadaan mental, dan banyaknya aperseptif, Herbart telah mengembangkan pasivitas kenetralan pikiran atau jiwa ke dalam suatu teori belajar mengajar secara sistematis. Ia berpikir bahwa pikiran atau jiwa itu tidak mempunyai bakat ataupun kecakapan alami dari pembawaan, baik untuk menerima maupun menghasilkan gagasan, dan bahkan tidak mempunyai penyusunan jarak jauh terhadap persepsi, berpikir, kemauan, atau kegiatan yang bersandar di dalamnya. Ia menganggap bahwa pikiran tidak lebih sebagai suatu medan atau tempat pertempuran (battle-ground) dan gudang ide. Katanya lagi, ide mempunyai suatu kualitas yang aktif. Ide-ide dapat membawa kehidupannya sendiri dalam pikiran yang pasif. Jiwa atau pikiran adalah suatu kumpulan (potensi), bukan kecakapan, tetapi ide-ide dan kondisi mental. Di dalam metafisikanya, Herbart menganggap setiap orang itu merupakan satu kesatuan pikiran atau jiwa yang merupakan bagian dari realitas yang asasi, dan maka dari itu, ia ada, terutama untuk pengalaman. Sebagaimana pikiran atau jiwa itu tidak mempunyai ruang, dan memang sebenarnya ia tidak mempunyai ruang, atau sifat yang sementara. Jiwa tidak mempunyai bakat pembawaan alamiah, juga tidak mempunyai kecakapan apa-apa, dan tidak pula mempunyai maksud menerima atau memproduksi. Intinya, tidak ada konsep, perasaan, juga keinginan. Di dalam jiwa tidak ada tabula rasa, berarti ia mempunyai reseptivitas keunikannya sendiri. Ambisi Herbart adalah membangun suatu ilmu pikiran atau jiwa manusia yang paralel dengan ilmu-ilmu biologi dan fisika. Ia berpikir bahwa ciri-ciri atau karakter suatu jiwa atau pikiran itu terdiri atas sesusunan ide-ide, yang sangat mirip dengan elektron pada konsep fisika modern. Oleh karena itu yang namanya jiwa adalah kumpulan isi-isi sebagai hasil dari ide-ide tertentu yang disajikan manusia. Karena ia berpikir bahwa psikologi sebagai kimia mental, maka ia merasakan bahwa peran utama psikologi adalah mempelajari berbagai ikatan dan pencampuran (algamation) ide-ide atau kondisi mental di dalam pikiran. Penemuan prinsip penggabungan dan pengikatan kembali ide-ide seperti unsur-unsur kimia adalah tujuan Herbart dalam penelitian psikologi. Meskipun Herbart merasakan bahwa psikologinya adalah ilmiah. Memang ia menolak eksperimental dan penggunaan data psikologis, yang sudah menjadi dasar landasan psikologi behavioristik abad ke-20.Menurutnya, berpikir dan observasi merupakan metode yang sesuai untuk penemuan psikologis. Lebih lanjut, pengamatan yang dilakukan untuk jiwa atau pikiran adalah pengamatan diri atau introspeksi. Dengan melihat ke dalam pikirannya sendiri, Herbart berpikir bahwa kimia mental-nya dapat dijelaskan. Ia merasakan bahwa ilmu seperti fisika adalah eksperimental, namun berkesuaian dengan itu, ilmu untuk psikologi harus metafisik dan introspektif. Demikianlah teori apersepsi Herbart ternyata bersifat introspekstif dan metafisik, dan bukannya eksperimental. Berikut dilanjutkan dengan mengetahui cara bekerjanya teori apersepsi Lima tahap belajar menurut Herbartian, Empat tahap belajar dari Herbart, yakni: kejelasan (clearness), asosiasi, sistem, dan metode, dikembangkan menjadi lima tahap oleh para pengikutnya. kemudian:
(1) Persiapan, dan
(2) Penyajian; asosiasi menjadi
(3) Pembandingan dan abstraksi; sistem menjadi
(4) Generalisasi; metode menjadi
(5) Aplikasi.

0 comments:

Post a Comment