Saturday, December 24, 2011

Teknik Pengajaran Berbicara | Belajar Bahasa Yukk!!!


Teknik Pengajaran Berbicara

            Keterampilan berbicara menunjang keterampilan bahasa lainnya. Pembicara yang baik memberikan contoh yang dapat ditiru oleh penyimak yang baik. Pembicara yang baik memudahkan penyimak untuk menangkap pembicaraan yang disampaikan. Keterampilan berbicara menunjang pula keterampilan menulis sebab pada hakikatnya antara berbicara dan menulis terdapat kesamaan dan perbedaan. Dua-duanya bersifat produktif. Dua-duanya berfungsi sebagai penyampai, penyebar informasi. Bedanya terletak dalam media. Bila berbicara menggunakan media bahasa lisan maka menulis menggunakan bahasa tulisan. Namun keterampilan menggunakan bahasa lisan akan menunjang keterampilan bahasa tulis. Begitu juga kemampuan menggunakan bahasa dalam berbicara jelas pula bermanfaat dalam memahami bacaan. Apalagi dalam cara mengorganisasikan isi pembicaraan hampir sama dengan cara mengorganisasikan isi bahan bacaan.

            Keterampilan berbicara bersifat mekanistis. Semakin sering dilatihkan atau digunakan semakin lancar orang berbicara. Pembinaan dan pengembangan keterampilan berbicara harus melalui pendidikan atau pengajaran berbahasa. Hal ini dapat berlangsung di dalam dan di luar sekolah.

Pembinaan dan pengembangan keterampilan berbicara siswa di sekolah menjadi tanggung jawab guru-guru bahasa Indonesia. Mereka harus dapat menciptakan suasana dan kesempatan belajar berbicara bagi siswa-siswa. Mereka harus sabar dan tekun memotivasi dan melatih siswa berbicara. Karena itu guru bahasa Indonesia harus mengenal, mengetahui, menghayati, dan dapat menerapkan berbagai teknik, teknik atau cara mengajarkan keterampilan berbicara, sehingga pengajaran berbicara menarik, merangsang, bervariasi, dan menimbulkan minat belajar berbicara bagi siswa. Teknik pengajaran berbicara  yang dapat diterapkan untuk pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar, antara lain:

a.  Teknik Ulang-Ucap
Teknik ulang-ucap sangat baik digunakan dalam melatih siswa mengucapkan atau melafalkan bunyi bahasa kata, kelompok kata, kalimat, ungkapan, peribahasa, semboyan, kata-kata mutiara, paragraf, dan puisi yang pendek. Pada kelas-kelas rendah teknik ini biasa digunakan dalam melatih siswa mengucapkan fonem kata-kata, dan kalimat-kalimat yang pendek. Model ucapan harus jelas, jernih, dan tepat. Guru bahasa harus dapat menjadi model yang akan ditiru oleh siswa. Model ucapan ini dapat berupa ucapan langsung atau lisan dan dapat pula berupa rekaman. Berikut ini disajikan beberapa contoh dalam bentuk kegiatan guru dan siswa pada pembelajaran berbicara di Sekolah Dasar.

1).  Fonem
2).  Kata
Guru  : Dengarkan baik-baik ucapan Ibu.
             Lalu  kalian  tiru!
             meja
Siswa : meja (klasikal)
Guru    : meja
Siswa : meja (klasikal)
Guru   : meja
Lula  : meja (individual)

 
Guru  : Dengarkan ucapan Ibu baik-baik, lalu kalian tiru!
              /a/                                                    
Siswa : /a/ (klasikal)     
Guru   : /a/
Siswa : /a/ (klasikal)     
Guru   : /a/
Anna   : /a/ (individual)
3).  Kalimat
Guru : Dengarkan baik-baik, lalu
tirukan ucapan Ibu.
            Ini buku saya.
Siswa: Ini buku saya. (klasikal)
Guru  : Ini buku saya.
Siswa : Ini buku saya.  (klasikal)
Guru   : Ini buku saya.
Mukhlis: Ini buku saya. (individual)

b.  Teknik Lihat - Ucap
            Teknik lihat-ucap digunakan dalam merangsang siswa mengekspresikan hasil pengamatannya. Yang diamati dapat berbagai hal atau benda, gambar benda, atau duplikat benda. Pada kelas-kelas rendah benda yang diperlihatkan untuk diamati sebaiknya benda-benda yang dekat dengan kehidupan siswa. Lebih baik lagi bila benda itu nyata. Jadi bukan benda atau hal yang bersifat abstrak. Bila benda atau hal yang bersifat abstrak dapat diberikan pada kelas-kelas lanjutan.
            Di bawah ini disajikan contoh penerapan teknik lihat – ucap:
Guru  : Perhatikan baik-baik gambar benda yang akan Ibu perlihatkan. 
             Kemudian sebutkan namanya.
             Lalu guru memperlihatkan gambar berikut.
 

        

GAMBAR 1
Siswa :   Katak.
Guru    : Benar! Itu adalah gambar katak.

c.  Teknik Deskripsi
            Deskripsi berarti menggambarkan, melukiskan, atau memerikan sesuatu secara verbal. Teknik deskripsi digunakan untuk melatih siswa berani berbicara atau mengekspresikan hasil pengamatannya terhadap sesuatu. Melalui deskripsi ini, pembicara menggambarkan sesuatu secara verbal kepada para pendengarnya.
            Contoh penggunaan teknik deskripsi berikut ini:
Guru     :  Anak-anak! Coba perhatikan benda apa yang Bapak pegang     ini?
Siswa    :          Jarum, Pak!
Guru        :   Ya, benar! Ini adalah jarum. Siapa yang dapat menjelaskan dengan kata-kata mengenai jarum ini?
Azizah     :     Bentuknya kecil, memanjang, dan bulat. Warnanya keperak-perakan. Salah satu ujung runcing. Ujung lainnya mempunyai lubang.
Guru        :     Bagus! Azizah baru saja menggambarkan jarum dengan baik  sekali. Sekarang mari kita coba contoh lain. Perhatikan baik-baik keadaan ruang kelas ini. Kemudian gambarkan dengan kata-katamu sendiri keadaan kelas ini.
Siswa      :     (Mengamati keadaan kelas. Menyusun deskripsi keadaan kelas.)
Guru        :        Mari kita lihat hasil  kerjamu, siapa yang memulai?
Irfandi     :   Ruangan kelas ini sangat bagus. Dindingnya putih bersih.    Jendelanya besar. Pintunya baru diperbaiki. Udara dapat beredar bebas keluar-masuk. Penerangannya pun cukup.
Guru        :        Bagus! Irfandi dengan tepat telah menggambarkan keadaan        kelas kita.

0 comments:

Post a Comment