Saturday, December 24, 2011

Teknik Pengajaran Apresiasi Sastra | Belajar bahasa Yukk !!!


Teknik Pengajaran Apresiasi Sastra

                   Pengajaran apresiasi sastra di SD pada dasarnya ingin menanamkan hakikat apresiasi itu pada tingkat yang paling dasar. Itulah sebabnya materi pelajaran kadang-kadang diambil dari puisi atau prosa yang isinya sejalan dengan perkembangan jiwanya.

                   Sastra diajarkan pada setiap jenjang pendidikan mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sampai sekolah menengah atas. Materi pengajaran sastra untuk ketiga jenjang pendidikan tersebut di atas tersusun secara lengkap dan utuh. Khusus untuk Sekolah Dasar materi sastra itu mencakup:

1)             mitologi, dongeng, dan hikayat dari berbagai daerah,
2)             cerita (fiksi) asli dan edisi yang disederhanakan,
3)             puisi anak dan puisi modern/lama yang sederhana, dan
4)             drama anak atau drama sederhana.

                   Apresiasi adalah pengenalan terhadap tingkatan pada nilai-nilai yang lebih tinggi. Artinya, seseorang yang memiliki apresiasi terhadap sesuatu, mampu menetapkan dengan tepat bahwa sesuatu itu baik, kurang baik, atau buruk. Meningkatkan apresiasi siswa berarti meningkatkan kemampuan memahami, menikmati, dan menilai suatu karya sastra. Dengan kata lain, kemampuan berapresiasi, dapat pula ditafsirkan sebagai tingkat kepekaan siswa terhadap nilai-nilai karya satra.

                   Berikut ini disajikan sejumlah teknik pengajaran sastra. Setiap teknik diberi penjelasan secara singkat. Kemudian disertakan juga contoh penggunaannya dalam bentuk kegiatan belajar mengajar di kelas. Teknik yang dimaksud antara lain:

a.  Teknik Memperkenalkan
                   Teknik memperkenalkan biasa digunakan pada siswa kelas-kelas rendah. Melalui teknik ini siswa diarahkan kepada contoh-contoh karya sastra seperti puisi, prosa, dan drama sederhana. Pengenalan hasil sastra merupakan jembatan ke arah mencintai hasil sastra.

                   Proses pengenalan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai saluran. Misalnya pendengaran seperti menyimak pembacaan puisi-puisi pendek, kutipan prosa atau drama. Pengenalan itu dapat pula melalui menyimak dan mengucapkan kembali, menyimak dan menuliskan kembali, membaca dan menyalin atau menonton dramatisasi, pementasan, dan deklamasi. Jadi pengenalan hasil sastra dapat dilakukan melalui telinga mata, atau saraf (gerak tangan).

1).  Simak
                   Bahan yang disampaikan harus dipilih dengan sebaik-baiknya. Taraf kesukaran, bahasa, struktur harus berimbang dengan kemampuan siswa. Bahasa tersebut akan lebih baik lagi apabila berada dalam pusat minat siswa.
Contoh:
Guru            : Dengarkan baik-baik! Ibu akan melisankan beberapa puisi. 
                    Siap?
Siswa          : Siap, Bu!
Guru            : Bangun tidur
                    Ku terus mandi
                   Tak lupa menggososk gigi

2).   Simak – Ulang Ucap
                   Pelaksanaannya adalah seperti berikut. Bahan itu disampaikan secara lisan kemudian siswa mengulangi ucapan guru. Atau bahan itu direkam dalam pita suara dan diperdengarkan kepada siswa. Kemudian siswa mengulangi ucapan seperti suara rekaman.
Guru            : Sedikit demi sedikit
                      Lama-lama menjadi bukit.
Siswa          : Sedikit demi sedikit
                      Lama-lama menjadi bukit.

3).   Simak-Tulis
                   Pada teknik simak-tulis kegiatan diikuti oleh menuliskan apa yang telah disimak. Karena itu bahan yang telah dipersiapkan dalam teknik simak - ulang ucap dapat digunakan sepenuhnya dalam pelaksanaan simak-tulis.
Guru            : Di sini senang
                     Di sana senang
                      Di mana-mana kita senang.
Siswa          : (Menulis, rekamannya seperti berikut)
                   Di sini senang
                     Di sana senang
                     Di mana-mana kita senang.

b.  Teknik Menjawab Pertanyaan
                   Menjawab pertanyaan mengenai isi bacaan sering sekali dipraktekkan dalam pengajaran bahasa. Hal ini pun dapat dilakukan dalam pengajaran sastra. Salah satu cara untuk mengukur pemahaman siswa terhadap suatu karya sastra ialah melalui jawaban siswa terhadap pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan isi karya sastra tersebut.\

Contoh:
Guru            :  Baca dalam hati cerita berikut ini!

MEMETIK BUAH NANGKA
                   Kabayan pemalas tetapi banyak akal. Setiap dia disuruh bekerja ada saja alasannya untuk mengelak. Sakit kepala, capek, dan sebagainya. Namun, hampir semua tugasnya selesai juga.
                   Mertua Kabayan menyuruh Kabayan memetik buah nangka. Kabayan pun pergi. Dia berjalan seenaknya. Matanya masih terasa berat. Dia masih mengantuk. Badannya masih terasa pegal-pegal.
                   Kabayan memanjat pohon nangka. Dipetiknya buah yang sudah masak itu. Karena kurang hati-hati buah nangka itu jatuh ke sungai. Buah nangka itu hanyut di bawa arus.
                   Mertua kabayan menunggu. Begitu Kabayan tiba di rumah, dia bertanya, “Mana nangkanya?”  “Nangka itu ikut arus sungai.” Jawab Kabayan.
                   Kemudian Kabayan mencari nangka itu. Di halaman rumah Pak Asik, Kabayan melihat seekor kambing sedang memakan kulit nangka.
                   “Ada kambing tersesat di sini?”  Tanya Pak Asik. “Saya tidak tahu kambing siapa,” Kata Kabayan. “Kambing itu akan disembelih,” tambah Kabayan. “Jangan, jangan disembelih! Itu kambing saya satu-satunya. “Nangkanya biar saya ganti dengan yang lebih besar.” Pinta Pak Asik.
                   Cepat-cepat Pak Asik  pulang. Kemudian dia datang lagi membawa dua buah nangka masak. Kambing ditukar dengan dua nangka. “Untung kambingnya belum disembelih,” kata Kabayan. “Syukur,” jawab Pak Asik sambil tersenyum.
                   Semuanya gembira. Pak Asik senang kambingnya kembali. Kabayan senang akalnya berhasil. Mertuanya senang dapat nangka masak. “Kabayan memang malas, tetapi panjang akalnya.”

Siswa          : Membaca cerita itu dengan teliti.
Guru            : Setelah kamu baca cerita tersebut jawablah pertanyaan-
                    pertanyaan berikut ini!
a.       Bagaimana cara Kabayan mengembalikan nagka yang       
     tersesat?
b.       Siapa sajakah pelaku cerita di atas?
c.       Mengapa Pak Asik gembira?
Siswa          : (Menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas).

0 comments:

Post a Comment