Sunday, December 25, 2011

Ruang Lingkup Pengajaran Mengarang atau Menulis dalam Kurukulum SD


Ruang  Lingkup Pengajaran Mengarang atau Menulis dalam Kurukulum SD
Agar tujuan mengarang dapat tercapai dengan baik, maka diperlukan latihan yang memadai dan secara terus menerus. Selain itu, anak pun harus dibekali dengan pengetahuan dan pengalaman yang akan ditulisnya, karena pada hakikatnya menulis adalah menuangkan sesuatu yang telah ada dalam pikirannnya. Namun demikian, hal yang tidak dapat diabaikan dalam pengajaran mengarang di SD adalah siswa harus mempunyai modal pengatahuan yang cukup tentang  ejaan,  kosakata, dan pengetahuan tentang mengarang itu sendiri.

Dalam kurikulum sekolah dasar hal yang dikemukakan di atas merupakan sasaran untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, diharapkan agar  anak menguasai hal itu. Maka dalam pembelajaran menulis/mengarang di sekolah dasar harus dimulai dari tahap yang paling sederhana lalu pada hal yang sederhana, ke yang biasa,  hingga pada yang paling sukar. Tentu saja hal ini pula melalui tahapan sesuai dengan tingkat  pemikiran siswa. Oleh  karena itu, di sekolah  dasar pembelajaran menulis/mengarang dibagi atas dua tahap, yaitu  menulis permulaan dan menulis lanjut.  Menulis permulaan ditujukan kepada siswa kelas rendah yakni kelas satu hingga kelas tiga, sedangkan pembelajaran menulis lanjutan diperuntukkan untuk kelas tinggi yaitu kelas empat hingga kelas enam. Untuk lebih jelasnya berikut diuraikan kedua kelompok tersebut secara ringkas berdasarkan beberapa referensi.
1.    Menulis Permulaan
Dalam pembelajaran menulis permulaan tentu harus dimulai pada hal sangat sederhana. Menulis tentu hanya dengan beberapa kalimat sederhana  bukan suatu karangan yang utuh. Mengajarkan menulis permulaan tentu saja selalu dilakukan dengan pembelajaran terpimpin. Beberapa contoh pembelajaran menulis permulaan seperti berikut. (a) mengarang mengikuti pola dengan cara siswa hanya diminta membuat karangan seperti contoh (pola) yang diberikan yang tentunya idenya harus lebih dekat dengan siswa. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat menuangkan ide/pikiran secara runtut dan logis.
Contoh:        Mangga
               Mangga berbentuk bulat
                     Isinya kuning
                     Rasanya manis
                    Mangga dijual di pasar
Contoh di atas dapat ditiru polanya oleh anak dengan memberi topik lain misalanya, bola, kucing, rumah, dan sebagainya.    Karangan di atas bisa diajarkan pada kelas satu dan dua, setelah siswa lancar dalam menulis kalimat sederhana, (b) mengarang dengan melengkapi kalimat,  yakni siswa diminta untuk melengkapi kalimat dalam karangan dengan kata yang telah tersedia. (c)  Bimbingan dengan memasangkan kelompok kata, yakni siswa diminta untuk memasangkan kelompok kata dengan kalimat yang terpenggal atau kurang lengkap Hal ini bertujuan agar siswa dapat membuat kalimat luas. (d) Bimbingan dengan mengurutkan kalimat, yaitu siswa dibimbing untuk mengurutkan kalimat  sesuai dengan gambar  seri. (e) Bimbingan dengan pertanyaan, hal ini diharapkan agar siswa dapat membuat karangan setelah dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan dalam pikirannnya. Karena sebuah karangan jika ditarik kesimpulan sebenar nya merupakan ragkaian jawaban atas berbagai pertanyaan.  Dalam hal ini guru hanya menyiapkan beberapa pertanyaan, misalanya; Kucingku, apa nama kucingmu, apa
warnanya, apakah kamu menyukai, apa makanannnya, kapan memberi makan, lucukah, mengapa lucu, dsb.
Demikian beberapa contoh mengarang permulaan, yang pada dasarnya merupakan upaya membentuk kebiasaan siswa mengarang secara sederhana sesuai tingkat perkembangan kemampuannya.
2.    Menulis Lanjutan
 Syarat untuk dapat menulis lanjutan adalah siswa harus terampil  dan menguasai menulis permulaan. Oleh karena itu, pada prinsipnya menulis lanjutan adalah pengembangan menulis permulaan.  Adapun tujuannya adalah   agar siswa dapat membuat karangan secara ajek dan lengkap.  Beberapa metode dalam menulis lanjutan antara lain: (a) Membuat paragraf dengan gambar, yakni siswa diminta untuk membuat paragraf berdasarkan gambar yang telah disediakan. Hal ini dapat diberi kata-kata kunci, sehingga tidak terlalu menyimpang dengan cerita. (b) Mengembangkan paragraf, yakni siswa dilatih untuk mengembangkan sebuah kalimat utama menjadi sebuah paragraf. (c) Menyusun paragraf dari kalimat yang tersedia  (d)  Menghubungkan paragraf dengan paragraf lainnnya. (e)  Membuat karangan dengan gambar seri (akan diuraikan tersendiri). (f) Mengarang berdasarkan  kerangka, dan mengarang secara bebas.
Semua strategi di atas bukan harga mati melainkan  sangat fleksibel. Hal ini disebabkan karena pembelajaran menulis di SD cakupannya cukup luas.  Adapun ruang lingkup pembelajaran menulis/mengarang di SD berdasarkan kurikulum terutama kelas IV, V, dan VI antara lain sebagai berikut: karangan prosa narasi, menulis surat karangan prosa deskripsi, menulis surat izin, menulis surat undangan, mengisi formulir, menyusun paragraf, mengembangkan judul dan topik, memilih judul, menyusun kerangka, menulis nonfiksi, mengubah puisi menjadi prosa, menyingkat cerita, menyusun laporan, menyusun berita keluarga, menyusun naskah telegram, menyusun naskah pengumuman, menyusun naskah poster dan iklan, menyusun laporan kegiatan, menyusun naskah pidato

0 comments:

Post a Comment