Saturday, December 17, 2011

PROSES PEMEROLEHAN BAHASA NURTURE DAN NATURE

PEMEROLEHAN BAHASA


Dalam pemerolehan bahasa terdapat 2 perbedaan yaitu nurture dan nature. Pemerolehan bahasa yang bersifat nurture berarti bahwa pemerolehan bahasa seseorang itu ditentukan oleh lingkungan sekitar dimana ia berada, sedangkan yang bersifat nature berarti bahwa pemerolehan bahasa itu pada dasarnya merupakan suatu bekal yang telah dimiliki seseorang ketika ia dilahirkan ke dunia.

1.        Nurture
Bagian ini membahas proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture dari sudut pandang beberapa ahli yaitu Ivan Pavlov, John B. Watson dan B.F. Skinner. Pada intinya yang dimaksud dengan proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture adalah bahwa proses pemerolehan bahasa seseorang itu merupakan suatu kebiasaan yang dapat diperoleh melalui proses pengkondisian (Brown, 2000:34). Hal ini sejalan dengan pandangan para ahli behaviorisme yang sangat meyakini bahwa anak-anak hadir di dunia disertai dengan sebuah tabula rasa, sebuah batu tulis yang bersih tanpa ada pemahaman sebelumnya atas dunia maupun atas bahasa, dan bahwa anak-anak tersebut kemudian dibentuk oleh lingkungan mereka dan perlahan-lahan terkondisikan melalui beragam jadwal penguatan (Brown, 2000:22).

a.Ivan Pavlov
Ivan Pavlov adalah seorang ahli psikologi dari Rusia yang melaksanakan serangkaian eksperimen yang kemudian terkenal dengan sebutan classical conditioning. Dalam eksperimennya tersebut Pavlov menggunakan anjing sebagai subyek. Pavlov kemudian memeroleh kesimpulan bahwa stimuli netral awal yang berupa suara dari garpu yang dibunyikan menghasilkan kekuatan yang mendatangkan respon yang berupa pengeluaran air liur anjing yang pada mulanya dihasilkan dari stimuli lain yaitu penglihatan atau bau makanan anjing. Dengan demikian maka Pavlov telah membuktikan bahwa proses belajar itu terdiri dari pembentukan beragam asosiasi antara stimuli dan respon refleksif (Brown, 2000:80).

b.   John B. Watson
John B. Watson adalah seorang psikolog yang menemukan istilah behaviorisme dan sekaligus menemukan suatu aliran ilmu psikologi baru yang menyatakan bahwa para psikolog seharusnya hanya terfokus pada perilaku yang dapat diamati secara langsung. Lebih jauh, menurut Watson, pada dasarnya pernyataan-pernyataan ilmiah dapat selalu diverifikasi (atau dibantah) oleh siapapun yang mampu dan bersedia untuk melakukan observasi yang diperlukan. Namun kemampuan ini tergantung pada kegiatan untuk memelajari hal-hal yang dapat diamati secara obyektif. Menurutnya proses kejiwaan bukan merupakan sebuah subyek yang tepat bagi studi ilmiah karena proses kejiwaan merupakan peristiwa pribadi yang tidak ada seorangpun yang dapat melihat atau menyentuhnya. Sedangkan perilaku merupakan respon atau aktifitas yang jelas atau dapat diamati oleh sebuah organisme. Maka Watson menegaskan bahwa para psikolog dapat memelajari apapun yang dilakukan atau dikatakan orang –berbelanja, bermain catur, makan, memuji seorang teman- namun mereka tidak dapat memelajari secara ilmiah pikiran, harapan, dan perasaan yang mungkin menyertai perilaku tersebut.

Berangkat dari pandangan barunya terhadap psikologi tersebut dan dengan berpegangan pada temuan Pavlov yaitu dengan menggunakan teori classical conditioning maka Watson menyatakan bahwa penjelasan atas segala bentuk pembelajaran adalah dengan melalui proses pengkondisian maka manusia membentuk sejumlah hubungan stimuli-respon, dan perilaku manusia yang lebih kompleks dipelajari melalui cara membangun serangkaian atau rantai-rantai respon (Brown, 2000:80).

Dengan demikian Watson mengambil posisi yang ekstrim terhadap salah satu pertanyaan psikologi yang tertua dan paling mendasar yaitu masalah mengenai nature dan nurture. Watson menyatakan bahwa setiap orang itu dibentuk menjadi apa adanya mereka kemudian dan bukan dilahirkan. Ia mengabaikan pentingnya keturunan, dengan menyatakan bahwa perilaku ditentukan sepenuhnya oleh lingkungan. Namun pandangan Watson tersebut tidak pernah mendapat kesempatan untuk diuji lebih lanjut. Meskipun demikian tulisan-tulisannya memberikan sumbangan yang cukup besar bagi elemen lingkungan yang seringkali dihubungkan dengan behaviorisme.



c.   B.F. Skinner
Seorang ahli bahasa lain yang juga berkecimpung dalam teori behaviorisme dan mengikuti jejak dan tradisi Watson adalah B.F. Skinner, seorang psikolog Amerika yang hidup pada tahun 1904 sampai dengan 1990. Setelah memperoleh gelar doktor pada tahun 1931, Skinner menghabiskan sebagian besar karirnya di Universitas Harvard tempat ia memeroleh kemasyuran atas penelitiannya terhadap pembelajaran pada organisme rendah, sebagian besar pada tikus dan burung dara.

Pada tahun 1950-an ia memperjuangkan kembalinya pendekatan stimulus-respon milik Watson. Ia memiliki teori klasik yaitu Verbal Behavior yang merupakan usaha lanjutan dari teori umum pembelajaran Skinner sendiri yang disebut dengan pengkondisian operan (operant conditioning). Skinner melakukan eksperimen terhadap tikus dimana ia melatih tikus untuk mendapatkan makanan dengan menekan pedal tertentu. Setelah tikus tersebut mendapatkan pengetahuan bahwa jika ia ingin makan maka ia harus menekan pedal, kemudian proses untuk memeroleh makanan dipersulit dengan menyalakan lampu dimana sebelum mendapatkan makanan ia harus menekan pedal ketika lampu berkedi-kedip. Proses berikutnya adalah penekanan pedal sebanyak dua kali ketika lampu berkedip-kedip yang juga dapat dipahami oleh tikus tadi (Dardjowidjojo, 2003:235).

Maka apa yang dimaksud dengan pengkondisian operan oleh Skinner adalah pengkondisian dimana organisme (manusia) menghasilkan suatu respon, atau operan (sebuah kalimat atau ujaran atau aktifitas-aktifitas yang beroperasi atas dasar lingkungan), tanpa adanya stimuli yang dapat diamati; operan tersebut dijaga (dipelajari) melalui penguatan (reinforcement) (Brown, 2000:22-23). Teori Skinner ini menerangkan bagaimana berbagai kecenderungan respon dicapai melalui pembelajaran. Jika respon diikuti oleh konsekuensi yang menguntungkan atau disebut juga penguatan, maka respon tersebut menguat dan jika respon menghasilkan konsekuensi negatif  atau hukuman), maka respon tersebut akan melemah. Melalui eksperimennya tersebut, Skinner menemukan bahwa pemerolehan pengetahuan, termasuk pengetahuan mengenai bahasa merupakan kebiasaaan semata atau hal yang harus dibiasakan terhadap subyek tertentu yang dilakukan secara terus-menerus dan bertubi-tubi (Dardjowidjojo, 2003:235).

Dalam bukunya Diluar Kebebasan dan Martabat (Beyond Freedom and Dignity) yang diterbitkan tahun 1971 Skinner menyatakan bahwa semua perilaku sepenuhnya diatur oleh rangsangan eksternal. Dengan kata lain, perilaku manusia ditentukan oleh cara-cara yang dapat diprediksi oleh prinsip-prinsip hukum, seperti halnya terbangnya anak panah yang diatur oleh hukum-hukum fisika. Maka, jika seseorang meyakini bahwa tindakan-tindakannya merupakan hasil-hasil dari keputusan-keputusan secara sadar, maka ia keliru. Menurut Skinner, semua manusia dikendalikan oleh lingkungannya, bukan oleh dirinya sendiri.

Selanjutnya, dengan mengikuti tradisi Watson, Skinner menunjukkan minat yang kecil terhadap apa yang terjadi “di dalam” diri manusia. Ia menyatakan bahwa adalah sia-sia untuk berspekulasi terhadap proses-proses kognitif pribadi yang tidak dapat diobservasi. Melainkan, ia memfokuskan pada bagaimana lingkungan eksternal membentuk perilaku yang jelas. Ia menyatakan adanya determinisme, yang menilai bahwa perilaku sepenuhnya ditentukan oleh stimuli lingkungan. Menurut pandangannya, orang cenderung menunjukkan beberapa pola perilaku karena mereka memiliki kecenderungan-kecenderungan respon  (response tendencies) yang stabil yang mereka capai melalui pengalaman. Kecenderungan-kecenderungan respon tersebut dapat berubah di masa mendatang, sebagai hasil dari pengalaman baru, namun mampu terus bertahan untuk menciptakan tingkat konsistensi tertentu dalam perilaku seseorang.

 Lebih lanjut, Skinner memandang pribadi seorang individu sebagai sebuah kumpulan kecenderungan-kecenderungan respon yang terikat pada berbagai situasi stimuli. Sebuah situasi tertentu dapat dihubungkan dengan sejumlah kecenderungan respon  yang bervariasi dalam kekuatan tergantung pada pengkondisian di masa lalu. Karena kecenderungan-kecenderungan respon secara konstan diperkuat atau diperlemah oleh pengalaman-pengalaman baru, teori Skinner memandang perkembangan kepribadian sebagai sebuah perjalanan yang berkelanjutan seumur hidup. Skinner tidak melihat alasan untuk membagi proses perkembangan ke dalam beberapa tahap. Ia juga tidak memberikan importansi khusus pada pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak.

Dalam hubungannya dengan pemerolehan bahasa, Skinner adalah seseorang yang mendukung nurture, karena baginya, setiap ujaran yang diucapkan manusia sesungguhnya mengikuti satu bentuk yang bersifat baik verbal maupun nonverbal dan perilaku bahasa semacam ini hanya dapat dipelajari manusia dari lingkungan atau faktor-faktor eksternal yang ada di sekitarnya (Pateda, 1991:99). Dengan demikian ia mempertegas dan memperjelas pandangan bahwa stimuli adalah hal yang terpenting dalam proses pemerolehan bahasa karena pada dasarnya stimuli yang memengaruhi respon.

Dalam hubungannya dengan aliran behaviorisme sendiri, menurut Lyons (1977:122) terdapat prinsip atau kecenderungan khusus yang menyatakan bahwa aliran ini cenderung memperkecil peran insting dan dorongan-dorongan yang dibawa sejak lahir dan penekanan atas peran yang dimainkan oleh pembelajaran dimana hewan dan manusia memperoleh pola-pola perilaku mereka; menekankan pada pemupukan (nurture) dan bukan pada sifat alami (nature), lebih menekankan pada lingkungan ketimbang pada faktor keturunan.

Selanjutnya Bell (1981:24) mengungkapkan pandangan aliran behaviorisme yang dianggap sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimanakah sesungguhnya manusia memelajari bahasa, yaitu:

1.   Dalam upaya menemukan penjelasan atas proses pembelajaran manusia, hendaknya para ahli psikologi memiliki pandangan bahwa hal-hal yang dapat diamati saja yang akan dijelaskan, sedangkan hal-hal yang tidak dapat diamati hendaknya tidak diberikan penjelasan maupun membentuk bagian dari penjelasan.
2.   Pembelajaran itu terdiri dari pemerolehan kebiasaan, yang diawali dengan peniruan.
3.   Respon yang dianggap baik menghasilkan imbalan yang baik pula.
4.   Kebiasaan diperkuat dengan cara mengulang-ulang stimuli dengan begitu sering sehingga respon yang diberikan pun menjadi sesuatu yang bersifat otomatis.



2.         Nature
Bagian ini membahas proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature dari sudut pandang beberapa ahli, yaitu Noam Chomsky, Derek Bickerton dan David McNeill. Pada dasarnya yang dimaksud dengan proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature adalah bahwa proses pemerolehan bahasa ditentukan oleh pengetahuan yang dibawa sejak lahir dan bahwa properti bawaan tersebut bersifat universal karena dialami atau dimiliki oleh semua manusia (Brown, 2000:34).

a.   Noam Chomsky
Sebagai wujud dari reaksi keras atas behaviorisme pada akhir era 1950-an, Chomsky yang merupakan seorang nativis menyerang teori Skinner yang menyatakan bahwa pemerolehan bahasa itu bersifat nurture atau dipengaruhi oleh lingkungan. Chomsky berpendapat bahwa pemerolehan bahasa itu berdasarkan pada nature karena menurutnya ketika anak dilahirkan ia telah dengan dibekali dengan sebuah alat tertentu yang membuatnya mampu memelajari suatu bahasa. Alat tersebut disebut dengan Piranti Pemerolehan Bahasa (language acquisition device/LAD) yang bersifat universal yang dibuktikan oleh adanya kesamaan pada anak-anak dalam proses pemerolehan bahasa mereka (Dardjowidjojo, 2003:235-236).

Skinner dipandang terlalu menyederhanakan masalah ketika ia menyama-ratakan proses pemerolehan pengetahuan manusia dengan proses pemerolehan pengetahuan binatang, yaitu tikus dan burung dara yang digunakan sebagai subyek dalam eksperimennya, karena menurut pendekatan nativis, bahasa bagi manusia merupakan fenomena sosial dan bukti keberadaan manusia (Pateda, 1991:102). Selain itu ada pula alasan lain mengapa pendekatan nativis merasa tidak setuju terhadap teori Skinner. Alasan tersebut berhubungan dengan bahasa itu sendiri, yaitu menurut para nativis bahasa merupakan sesuatu yang hanya dimiliki manusia sebab bahasa merupakan sistem yang memiliki peraturan tertentu, kreatif dan tergantung pada struktur (Dardjowidjojo, 2003:236). Masih dalam kaitannya dengan bahasa, karena tingkat kerumitan bahasa pula, maka kaum nativis berpendapat bahasa merupakan suatu aktivitas mental dan sebaiknya tidak dianggap sebagai aktivitas fisik, inilah sebabnya mengapa pendekatan nativis disebut juga dengan pendekatan mentalistik (Pateda, 1991:101).

b.   Derek Bickerton
Pendukung lain dari proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature adalah Derek Bickerton (Brown, 2000:35). Ia melakukan sejumlah penelitian mengenai bekal yang dibawa manusia sejak lahir (innateness) dan mendapatkan beberapa bukti yang cukup signifikan. Bukti-bukti tersebut mengungkapkan  bahwa manusia itu sesungguhnya telah “terprogram secara biologis” untuk beralih dari satu tahap kebahasaan ke tahap kebahasaan berikutnya dan bahwa manusia terprogram sejak lahir untuk menghasilkan sifat-sifat kebahasaan tertentu pada usia perkembangan yang tertentu pula (Brown, 2000:35). Dengan demikian pemerolehan bahasa tidak ditentukan oleh proses kondisi yang diberikan pada anak namun ditentukan oleh proses yang berjalan dengan sendirinya sejak anak lahir ke dunia seiring dengan kematangan pengetahuan bahasa dan usia anak tersebut.

c.   David McNeill
Dalam Brown (2000:24) menyatakan bahwa LAD terdiri dari empat properti kebahasaan bawaan, yaitu:
1.   Kemampuan untuk membedakan bunyi ujaran manusia (speech sounds) dari bunyi lain dalam lingkungan
2.   Kemampuan untuk mengorganisir data kebahasaan menjadi beragam kelas yang dapat diperhalus atau diperbaiki di kemudian hari
3.   Pengetahuan bahwa hanya jenis sistem kebahasaan tertentu yang mungkin untuk digunakan dan jenis sistem lainnya tidak mungkin untuk digunakan
4.   Kemampuan untuk melakukan evaluasi secara konstan terhadap sistem kebahasaan yang terus berkembang sehingga dapat membangun sistem yang paling sederhana dari masukan kebahasaan yang ada.

Sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimana manusia memelajari bahasa, Bell (1981:24) juga berusaha mengajukan beberapa pandangan Chomsky, yaitu:

1.   Aktivitas yang terjadi di dalam pikiranlah, misalnya cara memproses, menyimpan dan mengambil pengetahuan dari simpanan tersebut, yang merupakan pusat perhatian utama dan bukan perwujudan secara fisik dari pengetahuan.
2.   Pembelajaran merupakan masalah “penerimaan secara masuk akal” dari data yang diterima otak melalui panca indera.
3.   Kemampuan individu untuk merespon situasi baru dimana jika hanya berbekal kebiasaan stimuli-respon semata tidak akan dapat membuat individu tersebut siap.
4.   Pembelajaran merupakan suatu proses mental karena adalah lebih baik untuk mengetahui dan tidak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata daripada berkata-kata tanpa pemahaman.

0 comments:

Post a Comment