Wednesday, December 14, 2011

PENYEBAB KERUSAKAN EKOSISTEM HUTAN MANGROVE

 Penyebab Kerusakan Ekosistem Mangrove

Indonesia menyimpan potensi teritorial maupun sumber daya alam yang luar biasa. Letak strategis wilayah NKRI yang berada diantara dua benua yaitu Australia dan Asia serta diapit oleh dua samudera yaitu Hindia dan Pasifik merupakan kawasan potensial bagi jalur lalu-lintas antar negara. Di samping itu Indonesia merupakan negara kepulauan (archipelagic states) yaitu suatu negara yang terdiri dari sekumpulan pulau-pulau, perairan yang saling bersambung (interconnecting waters) dengan karakteristik alamiah lainnya dalam pertalian yang erat sehingga membentuk satu kesatuan. Sebagai negara kepulauan Indoneia memiliki sekitar 17.505 pulau yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia dengan perbandingan luas daratan dan perairan yaitu 1:3.

Salah satu bentuk potensi laut yang bersifat langka yaitu keberadaan hutan bakau (mangrove) yang memilik peran dan fungsi strategis sebagai penyangga kehidupan biota laut. Kawasan hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem langka, karena luasnya hanya 2% permukaan bumi. Indonesia merupakan kawasan ekosistem mangrove terluas di dunia. Ekosistem ini memiliki peranan ekologi, sosial-ekonomi, dan sosia-budaya misalnya  penyedia nutrien (detritus), tempat pemijahan, pemasok larva, peredam gelombang dan angin, penahan lumpur dan perangkap sedimen, penyerap limbah serta pencegah intrusi air laut, menjaga stabilitas pantai dari abrasi, penyerapan emisi CO2 serta memiliki fungsi konservasi, pendidikan, sekaligus identitas budaya.

Akan tetapi dibalik peran penting tersebut kondisi kawasan hutan bakau di Indonesia justru memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan. Tingkat kerusakan ekosistem mangrove dunia, termasuk Indonesia sangat cepat akibat pembukaan tambak, penebangan hutan mangrove, pencemaran lingkungan, reklamasi dan sedimentasi, pertambangan, sebab-sebab alam seperti badai/tsunami, dan lain-lain. Kerusakan hutan mangrove di Indonesia mencapai 70% dari total potensi mangrove yang ada seluas 9,36 juta hektare. Sekitar 48% atau seluas 4,51 juta hektare rusak sedang dan 23% atau 2,15 juta hektare dalam kondisi rusak berat. Berdasarkan data yang ada potensi sumber daya mangrove seluas 9,36 juta hektare tersebut, 3,7 juta hektare berada di kawasan hutan, sedangkan 5,66 juta hektare di luar kawasan hutan.

Berdasarkan uraian diatas secara kasuistik penulis hendak mengutarakan gambaran mengenai keberadaan hutan mangrove.. Corak kekayaan lingkungan sebagaimana diutarakan telah mengalami pergeseran peran dan fungsi lahan mangrove akibat motif ekonomi masyarakat disekitar kawasan pesisir. Bentuk perusakan Ekosistem Hutan Mangrove oleh masyarakat yang terjadi lazimnya dilakukan untuk keperluan antara lain:
  1. Pertambakan. Konversi ekosistem mangrove menjadi tambak merupakan faktor utama penyebab hilangnya hutan mangrove dunia. Tambak merupakan pemandangan umum, baik tambak udang dan bandeng maupun tambak garam.
  2. Penebangan Vegetasi Mangrove. Pembukaan lahan untuk tambak melalui penebangan secara tidak lestari merupakan penyebab utama kerusakan mangrove.
  3. Pencemaran Lingkungan. Pencemaran yang terjadi baik di laut maupun di daratan dapat mencapai kawasan mangrove, karena habitat ini merupakan ekoton antara laut dan daratan. Bahan pencemar seperti minyak, sampah, dan limbah industri dapat menutupi akar mangrove sehingga mengurangi kemampuan respirasi dan osmoregulasi tumbuhan mangrove, dan pada akhirnya menyebabkan kematian. Di pesisir pantai Rembang bahan pencemar yang umum dijumpai di kawasan mangrove adalah sampah domestik,seperti lembaran plastik, kantung plastik, sisa-sisa tali jaring, botol, dan kaleng.
  4. Reklamasi dan Sedimentasi. Reklamasi pantai untuk kepentingan industri serta sedimentasi dalam skala besar dan luas dapat merusak ekosistem mangrove karena tertutupnya akar nafas dan berubahnya kawasan rawa menjadi daratan.

0 comments:

Post a Comment