Wednesday, December 7, 2011

LANGKAH – LANGKAH DALAM MENYUSUN KTSP


Adapun langkah-langkah dalam penyusunan KTSP adalah sebagai berikut :
1. Analisis Konteks
a. Analisis potensi dan kekuatan/kelemahan yang ada di sekolah: siswa, guru dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, biaya dan program-program yang ada di sekolah.
b. Analisis peluang dan tantangan yang ada di masyarakat dan lingkungan sekitar: komite sekolah, dewan pendidikan, dinas pendidikan, asosiasi propesi, dunia industri dan dunia kerja, sumber daya alam dan sosial budaya.
c. Mengidentifikasi Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan sebagai acuan dalam penyusunan KTSP.
2. Tim Penyusun
Tim penyusun KTSP SD, SMP, SMA dan SMK terdiri dari guru, konselor, kepala sekolah, komite sekolah dan nara sumber, dengan kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota dan disupervisi oleh dinas kabupaten/kota dan propinsi yang bertanggungjawab di bidang pendidikan.
3. Kegiatan Penyusunan
a. Penyusunan KTSP merupakan bagian dari perencanaan sekolah. Kegiatan ini dapat berbentuk rapat kerja dan loka karya sekolah yang diselenggarakan dalam jangka waktu sebelum tahun pelajaran baru.
b.Tahap kegiatan penyusunan KTSP secara garis besar meliputi: penyiapan dan penyusunan draf, review dan revisi serta finalisasi. Langkah yang lebih rinci dari masing-masing kegiatan diatur dan diselenggarakan oleh tim penyusun.
4. Kegiatan Penyusunan
Dokumen KTSP SD, SMP, SMA dan SMK dinyatakan berlaku oleh kepala sekolah serta diketahui oleh komite sekolah dan dinas kabupaten/kota yang bertanggungjawab di bidang pendidikan (Kunandar, 2007:129).
5. Keunggulan KTSP
Keunggulan KTSP dapat dilihat dari perbedaan antara KTSP dengan kurikulum sebelumnya, menurut Susilo (2007:10) perbedaan kurikulum 1994, kurikulum 2004 (KBK) dan KTSP yaitu sebagai berikut :
Tabel perbedaan Kurikulum 1994, Kurikulum 2004 (KBK) dan KTSP
Kurikulum 1994 Kurikulum 2004 (KBK) KTSP
Seluruhnya berada di atangan pusat dan daerah hanya kebagian pengembangan kurikulum lokal dengan porsi 80% pusat dan 20% daerah Seluruhnya berada di tangan pusat dan daerah hanya mengembangkan kompetensi sebagai standar dan kalender pendidikan. Sedanagkan guru membuat rencana pembelajaran Pusat hanya mengembangkan potensi sebagai standar sedangkan elaborasi kompetensi diserahkan daerah/sekolah dalam bentuk silabus.
Berbasis konten/isi Berbasis kompetensi Berbasis kompetensi
Pengembangan kurikulum dilakukan secara sentralisasi, sehingga Depdiknas memonopoli pengembangan ide dan konsepsi kurikulum Pengembangan kurikulum dilakukan secara desentralisasi, sehingga pemerintah dan masyarakat bersama-sama menentukan standar pendidikan yang dituangkan dalam kurikulum SKKD diturunkan dari pusat, sedangkan pengembangan kurikulum dan perangkat pembelajaran dibuat oleh masing-masing satuan pendidikan berdasrkan visi, misi dan tujuan sekolah
Materi yang dikembangkan dan diajrkan di sekolah seringkali tidak sesuai kebutuhan dan kemampuan siswa serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah Sekolah diberi kekuasaan untuk menyusun dan mengembangkan silabus mata pelajaran sehingga dapat mengakomodasi potensi sekolah, kebutuhan dan kemampuan siswa, serta kebutuhan masyarakat sekitar Mengidentifikasi materi pokok/pembalajaran yangmenunjang pencapaian kompetensi dasar dengan mempertimbangkan : potensi siswa, relevansi dengan karakteristik daerah, tingkat pengembangan fisik, intelektual, emosional sosial dan spiritual siswa sesuai tuntutan lngkungan dan alokasi waktu.
Pembelajaran cenderung hanya dilakukan di dalam kelas Pembelajaran yang dilakukan mendorong terjadinya kerjasam ntara sekolah, masyarakat dan dunia kerja dalam membentuk kompetensi siswa Kegiatan pembelajaran dirncang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antara siswa, siswa dengan guru, lingkungan dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar.
Evaluasi nasional yang tidak dapat menyentuh aspek-aspek kepribadian siswa Evaluasi berbasis kelas yang menekankan pada proses dan hasil belajar Evaluasi pencapaian kompetensi dasar siswa dilakukan berdasrkan indikator. Evaluasi dengan menggunakan tes dan nontes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan atau produk penggunaan portofolio dan penilaian diri. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses).

0 comments:

Post a Comment