Saturday, October 8, 2011

PRIMARY PROCESS COMMUNICATION | PROSES KOMUNIKASI SECARA PRIMER | VERBAL NONVERBAL

PRIMARY PROCESS COMMUNICATION | PROSES KOMUNIKASI SECARA PRIMER | VERBAL NONVERBAL : Proses komunikasi secara primer (primary process) adalah proses penyampaian pikiran oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan suatu lambang (symbol) sebagai media atau saluran. Lambang ini umumnya bahasa, tetapi dalam situasi-situasi komunikasi tertentu lambang-lambang yang dipergunakan dapat berupa kial (gesture), yakni gerak anggota tubuh, gambar, warna, dan lain sebagainya. Dalam komunikasi bahasa disebut lambang verbal (verbal symbol) sedangkan lambang-lambang lainnya yang bukan bahasa dinamakan lambang nirverbal (non verbal symbol).

1) Lambang verbal
Dalam proses komunikasi bahasa sebagai lambang verbal paling banyak dan paling sering digunakan, oleh karena hanya bahasa yang mampu mengungkapkan pikiran komunikator mengenai hal atau peristiwa, baik yang konkret maupun yang abstrak, yang terjadi masa kini, masa lalu dan masa yang akan dalang. Kita dapat menelaah pikiran Socrates dan Aristoteles yang hidup ratusan tahun sebelum masehi, dari buku-buku berkat kemampuah bahasa. Dengan bahasa kita dapat mengungkapkan rencana kita untuk minggu depan, bulan depan, atau tahun dupan, yang tidak mungkin dapat dijelaskan dengan lambang-lambang lain. Bagaimana pentingnya bahasa dalam kehidupan manusia dipaparkan oleh Kong Hu Chu tatkala ia ditanya orang apa yang pertama-tama akan dilakukan manakala diberi kesempatan mengurus negara. Kong Hu Chu menegaskan bahwa yang pertama-tama akan ia lakukan adalah membina bahasa, sebab apabila bahasa tidak tepat, apa yang dikatakan bukan yang dimaksudkan. Jika yang dikatakan bukan yang dimaksudkan, maka yang mestinya dikerjakan, tidak dilakukan. Jikalau yang harus dilakukan terus-menerus tidak dilaksanakan, seni dan moral menjadi mundur. Bila seni dan moral mundur, keadilan menjadi kabur, akibatnya rakyat menjadi bingung, kehilangan pegangan. Masalah bagaimana seharusnya ketepatan bahasa untuk mengungkapkan suatu maksud tertentu, dijumpai ketika berkecamuknya Perang Dunia II yang lalu. Ketika Jepang diminta oleh sekutu (Amerika Serikat) agar menyerah menjawab dengan menggunakan perkataan "mokusatsu” maksudnya adalah "tidak memberikan komentar sampai keputusan diambil (with holding comment until a decision has been made) tetapi kata mokusatsu oleh Kantor Berita Domei diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi "ignore" yang berarti "tidak perduli". Miskomunikasi inilah antara lain yang menyebabkan Hirosima di bom atom dalam Perang Dunia tersebut. "Kata-kata dapat menjadi dinamit" kata Scott M. Cutlip dan Alien H.Center dalam bukunya "Effective Public Relations". Contoh di atas menunjukkan betapa pentingnya bahasa dalam proses komunikasi. Bahasa mempunyai dua jenis pengertian yang perlu dipahami oleh para komunikator. Yang pertama adalah pengertian denotatif, yang kedua pengertian konotatif. Perkataan yang denotatif adalah yang mengandung makna sebagaimana tercantum dalam kamus (dictionary meaning) dan diterima secara umum oleh kebanyakan orang yang sama kebudayaannya dan bahasanya. Perkataan yang denotatiftidak menimbulkan interpretasi yang berbeda pada komunikan ketika diterpa pesan-pesan komunikasi. Sebaliknya apabila komunikator menggunakan kata-kata konotatif. Kata-kata konotatif mengandung pengertian emosional atau evaluatif. Oleh karena itu, dapat menimbulkan interpretasi yang berbeda pada komunikan.

Kebebasan mimbar merupakan ungkapan yang konotatif, demikian pula kebebasan pers. Begitu juga perkataan demokrasi. Secara etimologis demokrasi berasal dari kata "demos" dan "cratein" yang berarti pemerintahan rakyat, tetapi bagi orang Amerika, Korea, Kuba, Indonesia, dan bangsa-bangsa lain, istilah demokrasi tadi bersifat konotatif, sebab masing-masing bangsa yang mengaku negaranya demokratis, penilaiannya berbeda; maka sistem pemerintahannya pun berbeda. Sehubungan dengan itu, ketika berkomunikasi komunikator harus mengguna-kan kalimat-kalimat dengan kata-kata denotatif. Apabila kata-kata konotatif tidak dapat dihindarkan, maka kata-kata bersangkutan harus diberi penjelasan, tidak menimbulkan interpretasi yang berbeda antara komunikator dengan komunikan.

Khusus dalam komunikasi lisan, para pakar komunikator harus memperhatikan apa yang disebut oleh Casagrande : para-language yang barangkali dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi parabahasa. Yang dimaksudkan dengan parabahasa ini adalah berbagai hal yang mengiringi pengucapan kata-kata ketika seseorang berbicara atau berpidato, misalnya, gaya bicara, tekanan nada, volume suara, logat, dan lain sebagainya. Andaikata anda berada di suatu ruangan, lalu anda mendengar suara orang yang sedang bercakap-cakap, walaupun anda tidak melihatnya, anda akan dapat menerka suara itu dari seorang wanita atau laki-laki, anak atau dewasa, terpelajar atau tidak, Jawa atau Batak atau suku lain, dan lain sebagainya. Demikianlah masalah bahasa sebagai lambang verbal penyandang pikiran komunikator ketika ia menyampaikan pesannya kepada komuni­kan dalam proses komunikasi secara primer.

2)  Lambang Nonverbal
Seperti telah disinggung di muka lambang nonverbal adalah lambang yang dipergunakan dalam komunikasi, yang bukan bahasa, misalnya isyarat dengan anggota tubuh, antara lain kepala, mata, bibir, tangan, dan jari. Ray L Birdwhistell dalam bukunya "Introduction to Kinesics" telah melakukan analisis mengenai body communication. Dia mencoba untuk memberi rangka kepada "comprehensive coding scheme" bagi gerakan badan, seperti seorang linguistmelakukannya untuk bahasa lisan. Jika linguist menampilkan "phone" sebagai suara maka Birdwhistell mengetengahkan "kine" sebagai gerakan. Apabila linguist mengemukakan "phoneme", yakni sekelompok bunyi yang berubah-ubah, maka Birdwhistell mengemukakan "kinime", yaitu sebuah set gerakan yang berubah-ubah. Kalau linguist mencari "morpheme" yang mengandung pengertian, Birdwhistell menyelidiki "kinemort" serangkaian gerakan yang mengandung pengertian dalam konteks suatu pola yang lebih besar. Tahap seperti disebutkan di atas adalah microkinesics; lebih luas daripada itu adalah macrokinesics atau disebut juga social kinesics, di mana sebuah gerakan (act) - yaitu pola yang menyangkut lebih dari suatu area , akan bersangkutan dengan kerangka komunikasi yang lebih luas. Body communication atau non-verbal communication dalam bentuk gerak-gerik seperti disebutkan di atas banyak diteliti oleh para ahli. Ternyata banyak sekali gerakan yang sama mengandung arti yang berlainan, di antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Sebagai contoh: orang Toda di India Selatan sebagai tanda hormat menekankan ibu jarinya pada batang hidungnya, lalu melambaikan keempat jari lainnya ke depan. Gerakan seperti itu bagi bangsa lain - termasuk bangsa Indonesia - lain sekali artinya, yakni mengejek atau memperolok-olok. Termasuk komunikasi nonverbal ialah isyarat dengan menggunakan alat. Siapa yang tidak mengenal bedug sebagai alat komunikasi yang dipergunakan oleh kaum muslimin di Indonesia, atau bendera oleh para kelasi, atau asap oleh orang Indian, dan sebagainya. Para Ustadz di langgar-langgar sejak dahulu sampai zaman modern seperti sekarang ini menggunakan bedug untuk memberitahukan kepada kaum muslimin, bahwa saat untuk sembahyang sudah tiba. Para kelasi sudah terbiasa menggunakan bendera untuk pemberikan isyarat atau dengan alat telegrafi untuk jarak jauh atas dasar sistem Morse. Orang Indian sudah terbiasa pula melakukan komunikasi dengan menggunakan asap untuk memberitahukan sesuatu kepada teman-temannya yang berada di tempat jauh. Pada zaman modern seperti sekarang ini, alat untuk berkomunikasi dengan isyarat bersifat modern pula. Seorang pengendara mobil yang akan belok tidak perlu menjulurkan tangannya; cukup dengan menjawel schakelaar lampu richtingnya, maka dengan berkedip-kedipnya lampu merah di depan di belakang mobilnya, orang tahu bahwa ia akan berbelok. Demikian pula polisi lalulintas tidak perlu berdiri di bawah terik matahari tepat di perapatan jalan dengan menggunakan lampu setopan dengan warna merah, kuning, dan hijau, para pemakai jalan mengetahui kapan ia harus berhenti, kapan harus bersiap-siap, dan kapan boleh berjalan lagi.

Gambar adalah lambang lain yang dipergunakan dalam berkomunikasi nonverbal. Gambar dapat dipergunakan untuk menyatakan suatu pikiran atau perasaan. Dalam hal tertentu gambar bisa lebih efektif daripada bahasa. Tidak mengherankan, ada motto Tionghoa yang me­nyatakan bahwa gambar bisa memberi informasi yang sama dengan kalau diuraikan dengan seribu perkataan. Lambang gambar dalam proses komunikasi mengalami perkembangan sesuai dengan pertumbuhan masyarakat dan kemajuan teknologi. Jika dahulu gambar itu ditulis, kemudian dicetak, kini dengan kamera foto bisa dipotret, bahkan dengan kamera film atau kamera video dapat diatur menjadi gambar hidup. Pada akhirnya, apabila gambar itu merupakan lambang untuk proses komunikasi secara primer, menjadi lambang untuk proses komunikasi secara sekunder. Demikian sekaligus mengenai lambang verbal dan nonverbal dalam proses komunikasi secara primer yang untuk efektifnya komunikasi seringkali oleh para komunikator dipadukan, misalnya dalam kuliah atau ceramah disajikan gambar, bagan, tabel, dan lain-lain sebagai ilustrasi untuk memperjelas.

0 comments:

Post a Comment