Friday, June 17, 2011

PENGERTIAN DEFINISI TUTURAN PERFORMATIF | TUTURAN KONSTATIF MENURUT PARA AHLI

Pengertian Tuturan Performatif dan Konstatif Menurut para Ahli - Dear readers, dalam pembahasan kita kali ini kita akan membahas tentang Pengertian atau Definisi dari tuturan performatif dan konstatif menurut para ahli. Namun kita kenal lebih dahulu apa yang dimaksud dengan Tuturan.

Tuturan (utterance, oleh Kridalaksana disebut dengan istilah ujaran) adalah:
1.      regangan wicara bermakna di antara dua kesenyapan aktual atau potensial,
2.      kalimat atau bagian kalimat yang dilisankan (Kridalaksana, 1984: 2001).

Intinya: bahasa pada umumnya sebagai alat komunikasi, tetapi sebenarnya ada tindakan tertentu yang baru dapat terlaksana kalau orang itu mengemukakan tuturan/bahasa. Dengan demikian bahasa bukan semata-mata alat untuk menyatakan sesuatu tetapi juga melakukan sesuatu.

Filosof J.L. Austin membedakan antara tuturan performatif (performative) dan konstatif (constative).

Definisi:

Tuturan performatif (performative utterance) adalah tuturan yang memperlihatkan bahwa suatu perbuatan telah diselesaikan pembicara dan bahwa dengan mengungkapkannya berarti perbuatan itu diselesaikan pada saat itu juga; misalnya: dalam ujaran Saya mengucapkan terima kasih, pembicara mengujarkannya dan sekaligus menyelesaikan perbuatan “mengucapkan” (Kridalaksana, 1984: 2001). Performative (in speech act theory): an utterance which performs an act, such as Watch out (=a warning), I promise not to be late (= a promise). ((Richards dkk., 1989: 212). Secara ringkas dikatakan pula bahwa tuturan performatif adalah tuturan untuk melakukan sesuatu (perform the action).

Tuturan performatif  tidak dievaluasi sebagai benar atau salah, tetapi sebagai tepat atau tidak tepat, misalnya: I promise that I shall be there (Saya berjanji bahwa saya akan hadir di sana) dan performatif primer atau tuturan primer I shall be there (Saya akan hadir di sana) (Geoffrey Leech (terjemahan), 1993: 280).

Contoh lain:
  1. Saya berterima kasih atas kebaikan Saudara. (Tindakan berterima kasih: the act of thanking)
  2. Saya mohon maaf atas keterlambatan saya. (Tindakan mohon maaf: the act of apologizing).
  3. Saya namakan anak saya Parikesit. (Tindakan memberi nama: the act of naming).
  4. Saya bertaruh Mike Tyson pasti menang. (Tindakan bertaruh: the act of betting).
  5. Saya nyatakan Anda berua suami-isteri. (Tindakan menyatakan/menikahkan: the act of marrying).
  6. Saya serahkan semua harta saya kepada anak saya. (Tindakan menyerahkan: the act of bequeting).
  7. Saya akan pergi sekarang. (Tindakan pergi: the act of going).
Ciri-ciri tindakan performatif

1.      Subyek harus orang pertama, bukan orang kedua atau ketiga.
2.      Tindakan sedang/akan dilakukan

Kalau dalam bahasa Inggris, subjek orang pertama dan kala-nya present tense.

Austin dalam menentukan ciri-ciri tuturan performatif ini hanya melihat aspek gramatikalnya saja. Akhirnya direvisi (dilengkapi) oleh murid-muridnya, yaitu dengan adanya syarat-syarat lainnya yang disebut syarat tuturan performatif (felicity condition). Syarat-syarat itu antara lain:

  1. Orang yang menyatakan tuturan dan tempatnya harus sesuai atau cocok. Misalnya: Saya nyatakan Anda berdua suami-isteri. Penuturnya adalah penghulu (naib), pendeta, rama,  tempatnya di KUA, Gereja, Pura, Masjid,  objeknya 2 orang (berdua).
  2. Tindakan harus dilakukan secara sungguh-sungguholeh penutur. Misalnya: Saya mohon maaf atas kesalahan saya. Harus diucapkan sungguh-sungguh, tidak dengan tindakan menginjak kaki mitra tutur-nya.
Syarat itu juga belum cukup, kemudian diperbaharui lagi oleh John Searle, sebagai berikut:

  1. Penutur harus memiliki niat yang sungguh-sungguh dalam mengemukakan tuturannya. Misalnya: Saya berjanji akan setia padamu. (the act of promising).
  2. Penutur harus yakin bahwa ia mampu melakukan tindakan itu. atau mampu melakukan apa yang dinyatakan dalam tuturannya. Misalnya: Sesuk kowe tak-tukokke sepur (yakin tidak, kalau tidak berarti bukan tuturan performatif).
  3. Tuturan harus mempredikasi tindakan yan g akan dilakukan, bukan yang telah dilakukan. Misalnya: Saya berjanji akan setia.
  4. Tuturan harus mempredikasi tindakan yang akan dilakukan oleh penutur, bukan oleh orang lain. Misalnya: Saya berjanji bahwa saya akan selalu datang tepat waktu.
  5. Tindakan harus dilakukan secara sungguh-sungguh oleh kedua belah pihak. Misalnya: Aku njaluk pangapura marang sliramu, tumindakku kang ora ndadekake renaning penggalihmu. (Orang perta dan kedua melakukan tindakan secara sungguh-sungguh).
  6. Kalau tuturan tidak memenuhi kelima syarat tersebut, maka tuturan itu dikatakan tidak valid (infelicition).

Tuturan konstatif atau deskriptif (constative utterance) merupakan tuturan yang dipergunakan untuk menggambarkan atau memerikan peristiwa, proses, keadaan, dsb. dan sifatnya betul atau tidak betul (Kridalaksana, 1984: 2001)., atau Austin mengatakan bahwa tuturan konstatif dapat dievaluasi dari segi benar-salah (Geoffrey Leech (terjemahan), 1993: 316).
Misalnya:
1.       Ali pergi ke Jakarta
2.       Saya tidur di hotel.

A constative is an utterance which assert something that is either true or false; for example, Chicago is in the United States (Richards dkk., 1989: 212-213).

Tinjauan Pustaka:

Austin, J.L. 1962. How to Do Things with Words. (ed. J.O. Urmson). New York: Oxford University Press.
Harimurti Kridalaksana. 1984. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia.
Leech, Geoffrey. (Terjemahan M.D.D. Oka). 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik. Jakarta: Universitas Indonesia.
Richards, Jack dkk. 1989. Longman Dictionary of Applied Linguistics. Longman: Longman Group UK Limited.
Searle, John. 1969. Speech Acts. Cambridge: Cambridge University Press.
Demikian artikel kami kali ini tentang Pengertian Tuturan Performatif dan Konstatif Menurut para Ahli, semoga artikel ini bermanfaat buat saudara sekalian, dan mohon berikan feedback kepada kami  untuk memperbaiki artikel kami selanjutnya.

0 comments:

Post a Comment